Board of Peace Amerika: Perdamaian atau Ambisi Pribadi Trump
Opini oleh Rina Syafri
Pendahuluan
Ketika Donald Trump mendeklarasikan Board of Peace sebagai jalan baru menuju perdamaian Gaza, dunia seakan digiring ke panggung sandiwara politik. Amerika Serikat, sekutu paling setia Israel, tiba-tiba tampil sebagai “penyelamat” Gaza. Ironi ini begitu mencolok: bagaimana mungkin tangan yang selama ini menopang pendudukan, kini mengaku hendak membebaskan?
Biaya Perdamaian: USD 1 Miliar
Lebih mengejutkan lagi, setiap negara yang ingin duduk sebagai anggota permanen diwajibkan membayar USD 1 miliar. Perdamaian dijadikan komoditas, seolah nasib rakyat Gaza bisa ditukar dengan tiket masuk ke klub eksklusif bernama Board of Peace.
- Anggota permanen: wajib bayar USD 1 miliar.
- Anggota sementara: bebas biaya, tetapi hanya berlaku 3 tahun.
Apakah ini bentuk solidaritas, atau sekadar bisnis politik dengan label perdamaian?
Kritik Internasional
Banyak negara besar menolak hadir di peluncuran Board of Peace. India, misalnya, menilai badan ini menyingkirkan peran PBB. Kritikus menyebut Board of Peace lebih menyerupai “klub politik” dengan Trump sebagai ketua, sehingga keputusan akhir tetap berada di tangan AS.
- Kekhawatiran utama: badan ini melemahkan prospek Palestina karena fokus pada rekonstruksi tanpa menyentuh akar masalah: pendudukan Israel.
- Paradoks: Gaza dijadikan panggung legitimasi, sementara Israel tetap dipelihara sebagai “anak emas” Washington.
Amerika dan Gaza: Niat atau Pencitraan?
Jika Amerika sungguh-sungguh ingin Gaza merdeka, langkahnya sederhana: hentikan dukungan militer dan politik kepada Israel. Lepaskan cengkeraman yang membuat Gaza terperangkap dalam blokade dan penderitaan. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya: Gaza dijadikan proyek pencitraan, sementara Israel tetap dilindungi.
Board of Peace akhirnya tampak bukan sebagai wadah perdamaian, melainkan alat legitimasi politik. Trump ingin menunjukkan bahwa ia mampu menciptakan “jalan baru” di luar PBB, padahal substansinya tidak lebih dari pengalihan isu.
Dampak Positif yang Diklaim
Pendukung Trump menyebut Board of Peace bisa:
- Menyalurkan dana rekonstruksi secara terkoordinasi.
- Membentuk pemerintahan teknokrat Palestina di Gaza.
- Menghadirkan pasukan keamanan internasional untuk menstabilkan wilayah.
Namun semua ini masih sebatas klaim. Tanpa perubahan sikap AS terhadap Israel, manfaat nyata bagi Gaza tetap diragukan.
Trump Ketua Seumur Hidup: Ayak Ayak Wae
Yang paling aneh, Trump menempatkan dirinya sebagai ketua seumur hidup dalam Board of Peace. Ayak ayak wae—istilah yang tepat untuk menggambarkan absurditas ini. Perdamaian yang seharusnya menjadi agenda kolektif dunia, justru dijadikan panggung pribadi seorang tokoh politik.
Ketua seumur hidup berarti tidak ada mekanisme demokratis, tidak ada rotasi kepemimpinan, dan tidak ada ruang bagi suara lain. Semua keputusan berpusat pada satu figur, yang rekam jejaknya penuh kontroversi. Bagaimana mungkin dunia percaya pada perdamaian yang dikendalikan oleh satu orang dengan ambisi politik tak terbatas?
- Monopoli keputusan: Board of Peace berisiko menjadi alat legitimasi politik Trump.
- Krisis kepercayaan: Negara lain enggan bergabung karena merasa hanya menjadi penonton dalam panggung Trump.
- Pelemahan PBB: Board of Peace tampak seperti tandingan PBB, tetapi tanpa kredibilitas internasional.
Logika Dana: Untuk Gaza, Bukan Klub Eksklusif
Ngapain nyumbang uang sebanyak itu dengan ketentuan tidak pasti? Kalau memang mau bergerak, kumpulkan dana tersebut dan gelontorkan langsung untuk pembangunan Gaza: rumah sakit, sekolah, listrik, air bersih, dan lapangan kerja. Jangan jadikan Gaza sebagai alasan untuk membentuk klub elit dengan iuran miliaran dolar.
Lebih penting lagi, Trump seharusnya mencabut dukungan senjata ke Israel. Tanpa senjata, tanpa blokade, Gaza bisa bernapas. Amerika bisa menekan Israel untuk mengakui kemerdekaan Gaza, menegaskan bahwa tidak ada lagi penjajahan di atas dunia ini. Itu baru langkah nyata menuju perdamaian.
Penutup
Pertanyaan yang wajar muncul: apakah kita yang bodoh karena tidak melihat “positifnya,” atau justru para pemimpin dunia yang menutup mata demi kepentingan politik? Jawabannya jelas: rakyat Gaza tidak membutuhkan klub elit dengan iuran miliaran dolar. Mereka membutuhkan keadilan, kebebasan, dan pengakuan atas hak hidup yang selama ini dirampas.
Board of Peace Amerika hanyalah panggung baru dalam drama lama: perdamaian dijadikan komoditas dan ambisi pribadi Donald Trump. Sedangkan penderitaan Gaza tetap berlanjut.(*)

