
Repelita Washington - Amerika Serikat sejak menjadi kekuatan dominan pasca-Perang Dunia II pada 1945 telah terlibat langsung dalam penggulingan setidaknya sepuluh kepala negara di berbagai belahan dunia.
1. Mohammad Mosaddegh dari Iran pada 1953 digulingkan melalui operasi intelijen bersama Inggris karena nasionalisasi industri minyak yang mengancam kepentingan Barat.
2. Jacobo Arbenz di Guatemala tahun 1954 jatuh akibat intervensi CIA yang mendukung kudeta militer setelah reformasi tanahnya menyentuh aset perusahaan buah Amerika.
3. Patrice Lumumba sebagai perdana menteri Republik Demokratik Kongo pada 1960 dibunuh dengan dukungan logistik dan politik dari badan intelijen AS yang khawatir akan pengaruh Soviet.
4. Ngo Dinh Diem di Vietnam Selatan tahun 1963 mendapat lampu hijau dari Washington untuk kudeta militer karena dianggap tidak efektif melawan komunisme.
5. Joao Goulart dari Brasil pada 1964 digulingkan melalui dukungan AS terhadap junta militer yang menentang kebijakan nasionalisasinya.
6. Salvador Allende di Chili tahun 1973 mati dalam kudeta yang didukung penuh oleh CIA karena kebijakan sosialisnya yang mengancam investasi perusahaan Amerika.
7. Hudson Austin di Grenada pada 1983 ditumbangkan melalui invasi militer langsung AS yang mengakhiri pemerintahan revolusioner pasca-kudeta.
8. Manuel Noriega dari Panama tahun 1989 ditangkap dalam operasi militer besar-besaran atas tuduhan perdagangan narkoba setelah dianggap tidak lagi patuh pada kepentingan Washington.
9. Saddam Hussein di Irak pada 2003 digulingkan melalui invasi penuh pasukan koalisi pimpinan AS dengan alasan senjata pemusnah massal yang kemudian terbukti tidak ada.
10. Nicolas Maduro dari Venezuela pada awal 2026 menjadi korban terbaru melalui operasi penangkapan langsung dengan dalih keterlibatan dalam jaringan narkoterorisme internasional.
Penggulingan ini mencerminkan pola intervensi AS untuk mempertahankan pengaruh geopolitik dan ekonomi di kawasan strategis.



Banyak kasus melibatkan operasi rahasia CIA, dukungan kudeta lokal, hingga serangan militer terbuka.
Alasan resmi sering berkisar pada ancaman komunisme, narkoba, atau terorisme meskipun motif utama adalah perlindungan kepentingan nasional Amerika.
Negara-negara target umumnya memiliki sumber daya alam penting atau posisi strategis yang vital bagi Washington.
Dampak jangka panjang sering berupa kekacauan politik, perang saudara, atau rezim baru yang lebih patuh pada AS.
Editor: 91224 R-ID Elok

