
Repelita Jakarta - Tokoh Nahdlatul Ulama Umar Hasibuan menyampaikan kekhawatiran mendalam mengenai keputusan pemerintah yang masih enggan menerima kontribusi internasional dalam upaya mengatasi dampak bencana banjir dahsyat yang melanda wilayah Sumatera, meskipun situasi di lapangan menunjukkan urgensi bantuan tersebut untuk mempercepat proses pemulihan infrastruktur dan kehidupan masyarakat yang terdampak.
Melalui unggahan di platform media sosial X miliknya, Umar Hasibuan secara terbuka menyuarakan kebingungannya terhadap sikap tersebut, yang menurutnya bertentangan dengan kebutuhan mendesak di tengah kehancuran yang meluas akibat genangan air dan longsor yang menyusul.
“Entah apa alasan pemerintah menolak bantuan asing,” tulis Umar Hasibuan pada 15 Desember 2025.
Umar menekankan bahwa intervensi dari luar negeri saat ini menjadi elemen krusial untuk mendukung rekonstruksi daerah-daerah yang porak-poranda, di mana akses dasar seperti jalan, rumah, dan fasilitas umum telah rusak parah, sehingga tanpa tambahan sumber daya eksternal, pemulihan bisa memakan waktu lebih lama dan menimbulkan penderitaan berkepanjutan bagi korban.
Ia juga menggarisbawahi betapa vitalnya segala bentuk dukungan material maupun teknis untuk membangun kembali ketahanan komunitas lokal yang kini terpuruk, terutama mengingat skala bencana yang melebihi kapasitas respons domestik semata.
“Pdhl bantuan apapun diperlukan utk recovery lokasi bencana yg hancur porak poranda saat ini,” tambahnya dalam cuitan yang sama.
Perkembangan ini semakin menarik perhatian global setelah berbagai outlet berita internasional turun tangan meliput luasnya tragedi tersebut, termasuk laporan mendetail dari Barron’s asal Amerika Serikat yang menyebutkan angka korban jiwa mencapai sekitar 632 orang, menyoroti urgensi tindakan cepat untuk mencegah eskalasi krisis kemanusiaan.
Selain itu, Arab News dari Arab Saudi dan The Guardian dari Inggris juga memberikan ruang luas untuk membahas dinamika bencana alam ini, mulai dari faktor pemicu lingkungan hingga tantangan logistik dalam penyelamatan dan rehabilitasi, yang secara tidak langsung menimbulkan diskusi tentang peran kolaborasi global dalam penanganan musibah sebesar ini.
Liputan-liputan tersebut tidak hanya memperbesar kesadaran dunia terhadap penderitaan di Sumatera, tetapi juga memicu gelombang rasa ingin tahu di kalangan warga Indonesia sendiri, yang kini semakin vokal menuntut penjelasan transparan dari otoritas terkait motif di balik kebijakan penolakan bantuan luar, apakah demi menjaga kedaulatan nasional atau ada pertimbangan strategis lain yang belum diungkap.
Editor: 91224 R-ID Elok

