
Repelita Jakarta - Aktivis sosial Muhammad Said Didu menyoroti sikap yang dinilainya terlalu pasif dari kalangan mahasiswa dalam merespons berbagai persoalan kebangsaan.
Pria asal Kabupaten Pinrang itu secara khusus menyoroti diamnya gerakan mahasiswa di tengah tragedi kemanusiaan akibat banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah.
Bencana tersebut diduga kuat memiliki keterkaitan dengan praktik pembalakan hutan dan eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran.
Pernyataan kritiknya disampaikan melalui akun media sosial X @msaid_didu pada Senin, 2 Desember 2025.
Ia mempertanyakan keheningan gerakan mahasiswa ketika bencana alam melanda dan saat rekan-rekan aktivis ditahan dalam kasus bulan Agustus.
Said Didu juga menyoroti sikap diam yang sama saat terjadi praktik perampasan laut, perambahan hutan, dan perampokan tambang.
Penegasan serupa dilontarkannya terkait fenomena penggusuran rakyat, merebaknya judi online, dan maraknya kasus korupsi yang tidak direspons vokal oleh mahasiswa.
Ia mempertanyakan faktor apa sebenarnya yang membuat kelompok yang selama ini dikenal sebagai motor perubahan itu kini terkesan kehilangan suara dan daya kritik.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menyatakan bahwa bencana yang terjadi harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak.
Pernyataan Cak Imin itu disampaikan dalam sebuah video yang beredar pada Selasa, 2 Desember 2025.
Ia menegaskan bahwa kiamat dalam konteks bencana ekologis bukanlah sesuatu yang masih akan datang melainkan sudah terjadi akibat kelalaian manusia.
Pemerintah disebut akan mengambil langkah konkret sebagai bentuk pertanggungjawaban atas berbagai bencana yang terjadi.
Cak Imin mengaku telah mengirim surat kepada tiga menteri yang dinilai memiliki peran strategis dalam pengelolaan sumber daya alam.
Surat tersebut ditujukan kepada Menteri Kehutanan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Menteri Lingkungan Hidup.
Tujuannya adalah untuk melakukan evaluasi secara total terhadap kebijakan dan praktik pengelolaan lingkungan selama ini.
Langkah evaluasi tersebut disebut sebagai komitmen pemerintah untuk memperbaiki kebijakan dan memastikan penanganan dilakukan secara menyeluruh.
Cak Imin menggunakan istilah keagamaan "Taubatan Nasuhah" untuk menggambarkan tekad memperbaiki situasi secara radikal dan menyeluruh.
Taubatan Nasuhah menurutnya mensyaratkan evaluasi total terhadap semua aspek mulai dari cara berpikir, melangkah, hingga bertindak.
Ia kembali menekankan bahwa bencana ini bukan sekadar fenomena alam biasa melainkan akibat kesalahan manusia dalam memperlakukan lingkungan.
Pernyataan tentang kiamat yang sudah terjadi akibat kelalaian diri sendiri diulanginya untuk memberikan penekanan.
Cak Imin menyatakan bahwa saat ini doa dan dukungan moral sangat dibutuhkan bagi seluruh korban bencana.
Ia mengucapkan harapan agar para korban segera mendapatkan bantuan yang diperlukan dan keluarga mereka dilimpahi kesabaran.
Koordinasi antar kementerian dan lembaga terus dilakukan untuk merumuskan langkah-langkah pemulihan dan pencegahan berkelanjutan.
Partisipasi masyarakat dalam pengawasan dan pelestarian lingkungan juga menjadi aspek penting yang perlu ditingkatkan.
Kebijakan yang lebih pro-lingkungan dan berkeadilan sosial diharapkan dapat segera diimplementasikan untuk mencegah bencana serupa.
Kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perlu dibangun secara lebih masif dan sistematis.
Peran aktif semua elemen masyarakat termasuk mahasiswa dinilai sangat krusial dalam mendorong perubahan kebijakan yang lebih baik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

