Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Nini Arianti Kecam Ferry Irwandi: Isu Pemerkosaan Dijadikan Sensasi, Martabat Perempuan Dikorbankan

 header img

Repelita Jakarta - Ketua Umum Generasi Muda Peduli Indonesia Nini Arianti melancarkan kecaman keras terhadap konten kreator Ferry Irwandi atas pernyataannya yang menyebut adanya dugaan kekerasan seksual terhadap perempuan di lokasi bencana Sumatera.

Nini menilai pernyataan tersebut bukan sekadar kurang sensitif melainkan merupakan pelecehan terbuka terhadap martabat perempuan serta mempermainkan isu pemerkosaan sebagai bahan sensasi yang tidak bermoral.

"Ini bukan lagi soal tidak sensitif. Ini adalah bentuk pelecehan terang-terangan terhadap perempuan. Isu pemerkosaan diperlakukan seolah cerita sensasi. Ini sangat biadab dan tidak berperikemanusiaan," tegas Nini pada Minggu 7 Desember 2025.

Perempuan penyintas bencana saat ini berada dalam posisi paling rentan karena kehilangan tempat tinggal, rasa aman, serta mengalami tekanan psikologis yang luar biasa berat.

Namun justru dalam kondisi tersebut, mereka kembali dijadikan objek konsumsi publik melalui narasi yang belum memiliki bukti hukum yang jelas dan terverifikasi.

"Perempuan kembali diposisikan sebagai korban berlapis. Bencana tidak cukup menghancurkan, sekarang kehormatannya juga dipertaruhkan untuk konten. Ini tidak bisa ditoleransi," ujarnya dengan nada geram.

Nini menegaskan bahwa penyebaran isu pemerkosaan tanpa dasar yang kuat merupakan bentuk kekerasan simbolik sekaligus kekerasan psikologis massal yang sangat merugikan ribuan perempuan penyintas.

"Sekali isu ini dilempar ke publik tanpa verifikasi, ribuan perempuan akan hidup dalam ketakutan. Ini dampak sosialnya sangat kejam. Jangan berlindung di balik dalih kebebasan berekspresi," katanya.

Ia mendesak Ferry Irwandi segera mengambil tanggung jawab moral dengan menyerahkan bukti ke aparat penegak hukum jika memang ada atau menghentikan narasi tersebut dan meminta maaf kepada seluruh perempuan Indonesia.

"Kalau memang punya bukti, serahkan ke aparat penegak hukum. Kalau tidak, hentikan narasi sesat ini dan minta maaf kepada perempuan Indonesia," tegas Nini.

Organisasi yang dipimpinnya menyatakan kesiapan untuk melakukan advokasi hukum jika narasi serupa terus diproduksi tanpa tanggung jawab etis.

"Kami tidak akan diam ketika isu pemerkosaan dijadikan komoditas konten. Ini bukan soal viral, ini soal kemanusiaan dan harga diri perempuan," ujarnya.

Sebagai aktivis perempuan asal Sumatera, Nini mengingatkan bahwa ruang digital tetap memiliki batas etika yang tidak boleh dilanggar terutama ketika menyangkut penderitaan korban bencana.

"Satu kalimat ceroboh dari influencer bisa menjadi trauma baru bagi korban. Hentikan eksploitasi penderitaan perempuan di tengah bencana. Ini garis merah," pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved