
Repelita Jakarta - Jurnalis senior Edy Mulyadi menilai bahwa skenario kudeta Jokowi untuk Gibran yang membuat Prabowo terancam sedang berjalan secara merangkak sepanjang tahun 2025.
Edy Mulyadi menyatakan bahwa seorang presiden yang baru 14 bulan dilantik sudah harus menghadapi rumor terbuka bahwa wakilnya sedang menata karpet merah untuk naik takhta jauh lebih cepat dari jadwal konstitusi.
Edy Mulyadi menegaskan bahwa kudeta ini bukan lewat tank dan senjata, melainkan lewat sabotase ekonomi terukur serta manuver konstitusi yang licin.
Edy Mulyadi menyebut isu kudeta merangkak ini semakin keras menjelang akhir tahun dengan tokoh utama Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka, sementara Prabowo Subianto menjadi calon korban.
Edy Mulyadi mengingatkan bahwa Prabowo terjebak dalam skenario ironis yang dia sendiri bantu tulis saat menerima Gibran sebagai pendamping.
Edy Mulyadi merujuk Kolonel Purn Sri Radjasa yang menyebut kerusuhan bertopeng tuntutan rakyat sepanjang tahun ini sebagai upaya terakhir pihak pro-Jokowi agar Prabowo tampak tak becus.
Edy Mulyadi juga mengutip Said Didu bahwa Gibran adalah polis asuransi oligarki yang panik melihat Prabowo mulai menunjukkan taring reformis.
Edy Mulyadi menunjuk bansos beraroma lama, menteri kunci yang susah diganti, serta perintah singkat dari Solo yang masih didengar sebagai bukti Jokowi periode ketiga secara tak langsung.
Edy Mulyadi menyatakan rumor reshuffle besar Januari 2026 akan membuktikan jika terlalu banyak menteri pro-Jokowi berguling, maka blueprint kudeta memang pernah ada.
Edy Mulyadi menegaskan bahwa Prabowo bukan aktor baru dan belum menunjukkan tanda mau jadi korban cerita yang ditulis orang lain.
Edy Mulyadi menyimpulkan bahwa untuk menjadi kenyataan, kudeta ini masih butuh kesalahan fatal dari Prabowo sendiri.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

