Repelita Jakarta - Pegiat media sosial Herwin Sudikta secara terbuka mengkritik anggota DPR RI dari Partai Gerindra Endipat Wijaya atas komentarnya yang menyindir penggalangan donasi untuk korban banjir bandang di Sumatera.
Menurut Herwin, pernyataan Endipat justru menunjukkan sikap tidak nyaman terhadap inisiatif kemanusiaan yang digagas masyarakat biasa.
Si paling anggota DPR RI wakil rakyat terhormat itu rekam jejaknya ternyata tumbuh besar dari aroma pabrik kertas dan napas tambang batu bara.
Herwin mempertanyakan latar belakang Endipat yang dekat dengan sektor industri ekstraktif, sehingga komentarnya terkesan memihak kepentingan korporasi daripada aspirasi rakyat.
Kalau rakyat dianggap saingan, lalu dia duduk di kursi itu sebenarnya mewakili siapa?
Ia menilai sindiran Endipat terhadap konten kreator seperti Ferry Irwandi yang mengumpulkan dana miliaran rupiah justru membingungkan publik tentang peran legislator sebenarnya.
Herwin juga menyentil Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul atas kebijakannya yang mewajibkan izin resmi bagi siapa pun yang ingin menggalang dana bencana.
Lama ditunggu, akhirnya muncul juga.
Namun, menurut Herwin, kehadiran Gus Ipul di ranah publik justru mengecewakan karena tidak fokus pada solusi mendesak.
Tapi yang keluar bukan kabar soal bantuan, data korban, atau langkah cepat pemerintah.
Yang keluar malah, penggalangan donasi harus izin dulu.
Herwin menegaskan bahwa prioritas pemerintah seharusnya adalah mempercepat penyaluran bantuan, bukan menambah birokrasi yang menghambat solidaritas warga terdampak.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

