Penulis – Rina Syafri
Anggota DPR Gerindra, Endipat Wijaya, meremehkan donasi Rp10 miliar yang digalang rakyat untuk Aceh. Menurutnya, pemerintah sudah mengalokasikan anggaran triliunan rupiah untuk penanganan bencana. Di mengatakan tidak perlu ada kesan seolah rakyat lebih peduli dibanding negara.
Kepedulian rakyat, sekecil apa pun, tidak seharusnya dijadikan bahan ejekan atau dianggap menyaingi negara. Donasi Rp10 miliar adalah wujud nyata solidaritas, bukan ajang pamer. Rakyat bergerak cepat karena cinta dan empati. Bukan untuk mengukur siapa yang lehih peduli.
Anggaran triliunan yang dimiliki pemerintah adalah kewajiban konstitusional, bukan kemurahan hati. Negara memang harus hadir dalam setiap bencana, dan DPR bersama pemerintah wajib memastikan penyaluran bantuan tepat sasaran.
Edipat Wijaya keliru besar. Pernyataan yang mengejek donasi rakyat justru memperlihatkan sikap sinis terhadap kepedulian sesama. Padahal, semangat gotong royong rakyat seharusnya diapresiasi, bukan direndahkan. Kepedulian warga adalah kekuatan bangsa, bukan ancaman bagi negara.
Sekarang publik mempertanyakan sikap dan tindakan pemerintah menghadapi dampak bencana di Sumatera. Jika benar peduli, langkah paling konkret adalah menetapkan status bencana nasional. Dengan begitu, penanganan lebih terkoordinasi dan daerah terisolasi segera tersentuh bantuan.
Kesimpulan
Sindiran Endipat Wijaya memperlihatkan cara pandang yang sesat. Dia melihat kepedulian rakyat seolah saingan negara. Padahal, rakyat sudah membuktikan kepeduliannya dengan tindakan nyata. Kini giliran negara membuktikan janji “hadir sejak awal” bukan hanya dengan angka triliunan di atas kertas, tetapi dengan kecepatan dan ketepatan di lapangan.
Ingat, berbagai pihak meneriakkan ancaman kematian akibat kelaparan. Juga ancaman wabah penyakit akibat air dan lumpur yang terkontaminasi. Publik memperhatikan para penguasa dengan cermat.[]

