Repelita Jakarta - Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, terutama Aceh dan Sumatera Barat, dipandang bukan hanya kejadian alam semata, melainkan hasil dari keserakahan manusia serta pola pembangunan yang mengesampingkan kelestarian lingkungan.
Alissa Wahid, Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, menyampaikan pandangan tersebut dalam refleksi kemanusiaan yang disiarkan melalui YouTube Kompas TV pada momentum Natal.
Ia menyoroti kondisi saudara-saudara kita yang selama hampir satu bulan terakhir berada dalam situasi sangat sulit tanpa tanda-tanda pemulihan yang jelas.
Banjir susulan berskala kecil masih terus terjadi di beberapa daerah, sehingga memperpanjang penderitaan warga yang kehilangan rumah, mata pencaharian, dan rasa aman.
Alissa juga mengaitkan bencana berulang ini dengan krisis iklim global yang semakin nyata dampaknya di Indonesia.
Menurutnya, peringatan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ menjadi relevan, di mana keserakahan manusia dan pembangunan yang tidak berkelanjutan akan memicu krisis ekologis serta kemanusiaan.
Bencana hidrometeorologi yang terjadi saat ini dianggap sebagai konsekuensi dari eksploitasi alam tanpa pengendalian serta pengabaian keseimbangan ekosistem.
Yang paling menyedihkan adalah masyarakat kecil justru menjadi pihak yang paling menderita, sementara mereka tidak turut menentukan kebijakan atau praktik pembangunan tersebut.
Hingga saat ini, ia yakin bahwa sukacita Natal bagi sebagian orang juga disertai rasa empati dan bela rasa terhadap saudara-saudara di ujung utara Pulau Sumatera yang masih terdampak.
Editor: 91224 R-ID Elok

