
Repelita Jakarta - Pengamat yang aktif di media sosial Alifurraham menyampaikan rasa heran atas perilaku para pimpinan partai politik yang masih sibuk membahas strategi kekuasaan di saat bencana banjir bandang sedang menimbulkan penderitaan besar di Aceh serta beberapa wilayah Sumatera.
Penanganan krisis kemanusiaan tersebut hingga kini belum menunjukkan kemajuan berarti dengan ribuan korban meninggal dunia serta ratusan lainnya masih belum ditemukan.
Situasi lapangan masih sangat memilukan karena banyak penyintas yang menantikan bantuan tanpa kejelasan waktu sementara upaya pencarian dan rehabilitasi berjalan lambat.
Alifurraham mempertanyakan tingkat kepedulian moral dari kalangan elit yang justru ramai mendiskusikan pembentukan aliansi politik jangka panjang hingga tahun 2029.
Pernyataan itu disampaikan Alifurraham melalui kanal YouTube Seword TV.
Ia mengaku sulit memahami bagaimana para pejabat tinggi serta petinggi partai bisa memiliki waktu untuk membahas koalisi di tengah kondisi darurat yang mengerikan seperti yang dialami masyarakat Aceh dan Sumatera.
Wacana koalisi permanen mulai mencuat saat peringatan hari jadi Partai Golkar pada 5 Desember 2025.
Ketua Umum Partai Golkar yang juga menjabat menteri Bahlil Lahadalia saat itu mengajukan ide pembentukan koalisi tetap demi mendukung kestabilan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam jangka waktu panjang.
Alifurraham menilai usulan tersebut tidak mendesak mengingat dukungan politik terhadap kabinet saat ini sudah sangat solid dengan hampir semua partai bergabung kecuali satu.
Kekuatan koalisi yang ada sudah cukup kuat sehingga tidak ada ancaman nyata yang mengharuskan penguatan melalui mekanisme permanen.
Ia juga menduga ada kekhawatiran tersembunyi di balik gagasan tersebut meskipun posisi pemerintahan saat ini terlihat mendominasi lanskap politik nasional.
Awalnya Alifurraham memilih diam terkait pelaksanaan acara perayaan partai di tengah musibah dengan asumsi kegiatan itu telah dijadwalkan lama dan bersifat rutin.
Namun pandangannya berubah setelah melihat dampak lanjutan dari acara tersebut yang memicu gelombang pembicaraan tentang perpanjangan masa kekuasaan.
Perayaan itu justru menjadi pemicu utama munculnya narasi koalisi abadi yang dianggap tidak sensitif terhadap duka rakyat.
Perhatian para tokoh politik tampak lebih tertuju pada manuver strategis daripada pada upaya penyelamatan dan pemulihan korban bencana.
Setelah isu tersebut bergulir sejumlah petinggi partai saling memberikan tanggapan di ruang publik mengenai prospek koalisi permanen.
Debat tersebut berlangsung saat krisis di Aceh dan Sumatera masih menyisakan luka mendalam bagi ribuan keluarga.
Alifurraham melihat fenomena ini sebagai tanda adanya jurang empati antara pemimpin politik dengan realitas penderitaan masyarakat di bawah.
Prioritas pada agenda kekuasaan di tengah tragedi nasional dinilainya mencerminkan kurangnya kepekaan terhadap kebutuhan mendesak rakyat yang seharusnya menjadi fokus utama semua pihak berwenang.
Editor: 91224 R-ID Elok

