Repelita Jakarta - Pernyataan lama Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang menggambarkan dirinya sebagai bawahan organisasi kembali menjadi viral di tengah penolakannya terhadap surat pemecatan dari Rais Aam Miftachul Akhyar.
Dalam potongan video yang diunggah ulang di platform X, Gus Yahya menjelaskan hierarki internal di mana posisinya sebagai pemimpin eksekutif berada di bawah otoritas spiritual tertinggi yang tak tergantikan.
Ia menekankan bahwa Rais Aam adalah puncak kepemimpinan yang mewakili esensi Nahdlatul Ulama, sehingga segala bentuk gangguan terhadap figur tersebut sama dengan merusak fondasi gerakan keagamaan yang telah berdiri sejak 1926.
Ungkapan hormat ini kini terasa kontradiktif mengingat Gus Yahya menolak ultimatum pemecatan yang dikeluarkan melalui rapat Syuriyah, dengan alasan amanah muktamar ke-34 yang memilihnya untuk masa jabatan penuh.
Gus Yahya mengungkapkan telah mengirimkan permintaan audiensi pada Jumat lalu untuk berdialog langsung dengan Rais Aam guna menyelesaikan ketegangan yang memuncak dari isu pengelolaan internal dan undangan kontroversial.
Hingga saat ini, ia belum menerima konfirmasi pertemuan dan berencana mengirim pesan lanjutan untuk memfasilitasi musyawarah yang diharapkan dapat menjaga keutuhan struktural organisasi.
Akun X @BosPurwa membagikan ulang video tersebut pada 27 November 2025, yang menyoroti nada hormat Gus Yahya terhadap Rais Aam sambil menolak mundur dari posisi yang dianggapnya sah secara konstitusi NU.
Salah satu alasan pemecatan yang disebutkan dalam dokumen Syuriyah adalah undangan terhadap pembicara yang terkait jaringan Zionis internasional di akademi kepemimpinan nasional, yang dinilai menyimpang dari ajaran Ahlussunnah wal Jamaah dan muqaddimah qanun asasi organisasi.
Editor: 91224 R-ID Elok

