Penulis: Rina Syafri
Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) sudah lama diberitakan ke publik, tetapi kebingungan saya memuncak ketika muncul kabar soal Bandara IMIP yang baru diketahui setelah kunjungan Menteri Pertahanan. Bukan pabrik baru, bukan gudang tambahan — bandara. Dan para elit tampak terkejut. Setelah itu publik diminta ikut terkejut bersama mereka. Jelas saja saya bingung: apa benar negara tidak tahu, atau negara pura-pura tidak tahu?
Bandara bukan proyek kecil
Pembangunan bandara tidak mungkin diam-diam. Ada izin aviasi, tata ruang, keselamatan penerbangan, dan koordinasi lintas kementerian. Jika fasilitas sebesar itu bisa beroperasi enam tahun tanpa diketahui pejabat publik, maka ada dua kemungkinan:
- sistem pengawasan negara jebol, atau
- ada informasi yang sengaja tidak dibuka.
Dua-duanya sama-sama menggelisahkan.
Nilai strategisnya terlalu besar untuk tak terlihat
Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) sarat investasi asing, arus logistik tinggi, dan pergerakan tenaga kerja ribuan. Dalam konteks seperti itu, bandara bukan hanya tempat lepas-landas pesawat, tapi urat nadi ekonomi sekaligus pintu keluar-masuk pihak asing. Normalnya, fasilitas seperti itu berada dalam pemantauan ketat. Maka pertanyaan saya sederhana namun menohok:
Siapa yang sebenarnya mengendalikan ruang ini — negara, atau industri?
Publik berhak curiga
Keterkejutan para pejabat justru membangun keraguan baru. Jika bandara saja bisa lolos dari pantauan negara, apa kabar yang lebih kecil: perizinan ekspansi lahan, lalu lintas bahan baku, atau limbah yang mungkin tidak tercatat?
Alarm keras untuk negara
Temuan bandara ini seharusnya menjadi alarm. Negara tidak boleh kalah informasi di tanahnya sendiri. Karena kalau fasilitas sebesar bandara bisa tidak terlapor, maka apa pun bisa hilang tanpa kita tahu.
Saya masih bingung.
Dan mungkin, publik juga harus mulai ikut bertanya.

