Oleh: Rina Syafri
Johannesburg, 22–23 November 2025, bukan sekadar catatan kaki dalam buku tamu G20. Ini adalah panggung di mana seorang wakil presiden berusia 38 tahun akan berdiri di hadapan para pemimpin dunia, tanpa ayahnya di samping, tanpa skrip yang bisa menutupi kelemahan, dan tanpa lagi berlindung di balik senyuman ramah “Mas Wapres”.
Sebagian publik berkomentar sinis: “Nepo Baby lagi-lagi dapat panggung karena bapaknya.”
Sebagian lain meragukan: “Pidato di G20? Nanti pasti hanya membaca teks.”
Biarlah komentar itu bergulir. Karena justru di sinilah letak pentingnya momen ini: Gibran tidak bisa menghindar dari persepsi tersebut. Ia harus menatapnya, menjawabnya, dan membuktikan bahwa tudingan itu tidak sepenuhnya benar.
Saya bukan pendukung fanatik Gibran, tetapi saya pendukung fakta. Dan faktanya hari ini: seorang anak muda diberi kesempatan yang jarang sekali didapat generasinya, berdiri di forum yang sama dengan Biden, Xi Jinping, Macron, dan Modi. Kesempatan itu hadir bukan karena rapor sekolah atau prestasi akademik, melainkan karena rakyat memilih pasangan Prabowo–Gibran.
Namun kesempatan bukanlah pembuktian. Panggung bukanlah trofi. Trofi sejati adalah jika ia mampu membuat para pemimpin dunia berhenti sejenak, mendengar suara Indonesia dari mulutnya, dan mengakui substansi yang ia sampaikan. Jika Cyril Ramaphosa mengangguk setuju, jika media internasional menulis “Indonesia’s young VP delivers powerful message” tanpa menyebut nama Jokowi, maka itulah kemenangan.
Inilah saatnya Gibran mengubah narasi “Nepo Baby” dengan pidato yang berisi gagasan, visi, dan keberanian. Bukan dengan slogan kosong, bukan dengan candaan ringan, melainkan dengan substansi yang menunjukkan kapasitas seorang pemimpin.
Kalau ia gagal, narasi “Nepo Baby” akan terus melekat. Kalau ia berhasil, ia akan menjadi contoh bahwa privilege bisa dikonversi menjadi prestise—asal ada nyali dan kemampuan.
Saya menunggu di Johannesburg. Bukan untuk melihat Gibran sebagai anak seorang presiden. Saya menunggu untuk melihat Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden Republik Indonesia, yang mampu membuat publik menutup komentar sinis dengan satu kalimat sederhana:
“Lihat, dia memang bisa.”
Buktikan, Mas Gibran. Saatnya berhenti jadi anak orang. Saatnya jadi pemimpin bangsa.(*)

