Repelita Bandung - Pemerhati kebijakan publik Syafril Sjofyan menyampaikan pandangannya terkait hubungan Prabowo Subianto dengan mantan Presiden Joko Widodo.
Menurut Syafril, Jokowi merupakan sosok guru politik bagi Prabowo sehingga Prabowo dianggap harus patuh dan meniru sikap serta langkah gurunya itu.
Ia menyoroti fenomena di mana mantan presiden seolah dilindungi secara berlebihan oleh penguasa saat ini, sehingga masyarakat tidak boleh mempertanyakan atau mengkritik tindakan mantan presiden tersebut.
Syafril mencontohkan kasus dugaan korupsi atau pelanggaran hukum yang melibatkan mantan presiden, di mana aparat penegak hukum tidak berani menindak selama orang tersebut memiliki hubungan politik atau dianggap penting oleh pejabat yang berkuasa saat ini.
Ia juga menyinggung eksekusi hukum terhadap terpidana yang sudah inkrah, seperti kasus Silfester Matutina, yang menurutnya masih bebas meski sudah divonis. Hal ini ia kaitkan dengan perlakuan berbeda terhadap tersangka baru yang dianggap sebagai “bukti” ketidakadilan penegakan hukum.
Selain itu, Syafril menekankan pentingnya memahami budaya politik Indonesia yang menurutnya cenderung memaafkan kesalahan mantan presiden demi menjaga stabilitas kekuasaan penguasa sekarang, sehingga rakyat sebaiknya diam dan tidak terlalu ikut campur.
Dalam pandangannya, posisi Prabowo sebagai murid politik Jokowi membuatnya berkewajiban melindungi dan mengamankan kepentingan gurunya, termasuk terkait jabatan dan politik anak-anaknya.
Syafril menutup komentarnya dengan harapan agar Indonesia kelak memiliki pemimpin yang berjiwa besar, amanah, cerdas, tegas, dan berani, bukan yang sekadar mengandalkan hubungan pribadi atau jabatan sementara.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

