Datuk Fahmi Fadzil, Menteri Komunikasi dan Digital Malaysia, mengungkapkan hal tersebut saat acara ramah-tamah bersama warga diaspora Malaysia di Baku, Azerbaijan, Minggu, 16 November 2025.
Ia menegaskan bahwa tarif internet per GB di Malaysia “sekitar dua sen” atau setara dengan Rp335 per GB jika dikonversi dari kurs MYR ke IDR, jauh lebih murah dibandingkan tarif di Indonesia yang berkisar Rp6.000-9.000 per GB.
Fahmi menekankan bahwa pencapaian ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan akses digital terjangkau dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Keberhasilan tersebut juga didukung oleh peluncuran jaringan 5G cepat di Malaysia, yang menempatkan negara ini sebagai pemilik jaringan 5G tercepat kedua di Asia-Pasifik setelah Korea Selatan.
Menurut pernyataan resmi Kementerian Komunikasi Malaysia, beberapa paket 5G ritel menawarkan harga serendah RM 1,68 per GB, sementara angka “2 sen per GB” disebut Fahmi sebagai representasi murah global, bukan angka tetap untuk semua paket operator.
Para pengamat menilai persaingan antar operator dan model jaringan grosir 5G tunggal, disertai dukungan regulasi, turut menekan biaya layanan bagi konsumen.
Meski tarif rendah, akses dan kualitas layanan di wilayah pedesaan masih menjadi tantangan, dengan penetrasi internet di daerah terpencil belum setara dengan kawasan perkotaan, menurut laporan Freedom House.
Pencapaian Malaysia dipandang sebagai contoh bagi negara lain di Asia Tenggara untuk menurunkan biaya internet tanpa mengorbankan kualitas, dengan kunci keberhasilan terletak pada infrastruktur, regulasi, dan persaingan sehat antar penyedia layanan.
Pemerintah Malaysia menyatakan akan terus memperluas cakupan 5G dan melaksanakan program subsidi untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah agar semakin banyak warga menikmati internet cepat dan murah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

