
Repelita Jakarta - Fungsi Partai Solidaritas Indonesia Dedy Nur menegaskan bahwa tudingan pemalsuan dokumen pendidikan mantan Presiden Joko Widodo seharusnya langsung runtuh ketika berhadapan dengan mekanisme demokrasi Indonesia yang dirancang sangat ketat dan berlapis.
Menurutnya, dalam sistem demokrasi modern tidak ada celah untuk sekadar mengandalkan kepercayaan buta, karena setiap individu yang ingin menduduki jabatan publik wajib menyerahkan berkas lengkap yang telah dilegalisasi serta diperiksa ulang oleh berbagai institusi negara.
“Di negara demokrasi seperti Indonesia, setiap orang yang ingin terlibat dalam urusan kenegaraan harus melewati prosedur yang panjang, rumit, dan ketat. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada proses asal percaya,” ujar Dedy di X @DedynurPalakka pada 23 November 2025.
Ia menjelaskan bahwa satu saja persyaratan administratif yang tidak terpenuhi akan langsung mengakibatkan penolakan berkas dan pembatalan pencalonan tanpa ampun.
Proses verifikasi dilakukan secara teliti, mulai dari pengecekan lembar per lembar dokumen, konfirmasi legalisasi, hingga pencocokan identitas pemohon.
“Ada verifikasi administratif yang ketat. Dokumen dicek lembar demi lembar, legalisir diverifikasi, dan identitas dicocokkan," sebutnya.
"Ada verifikasi faktual, penyelenggara pemilu mencocokkan data langsung ke sekolah, kampus, hingga lembaga penerbit ijazah,” tambahnya.
Dedy juga menyoroti keterbukaan ruang publik dalam demokrasi, khususnya di kalangan akademisi yang dikenal sangat kritis dan tidak akan diam jika menemukan kejanggalan sekecil apa pun.
“Bila ada kejanggalan soal ijazah, publik akademik akan menjadi kelompok pertama yang bersuara dan mereka tidak akan menunggu hingga pemilu selesai untuk protes,” lanjutnya.
Terlalu banyak lembaga negara yang terlibat secara bersamaan sehingga hampir mustahil satu pihak dapat melakukan manipulasi tanpa terdeteksi oleh yang lain.
Justru kerumitan prosedur itulah yang menjadi benteng utama bagi integritas demokrasi Indonesia.
“Demokrasi memang ribet, tetapi justru keribetan itulah yang membuatnya paten,” katanya.
Dedy menggambarkan demokrasi sebagai mesin raksasa dengan ratusan komponen yang saling mengawasi dan mengunci satu sama lain.
“Pada akhirnya, begitulah demokrasi. Berisik, rumit, ruwet, sering membuat pusing, tapi justru karena itulah ia berdiri di atas mekanisme yang sulit dimanipulasi oleh satu pihak saja,” kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

