Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Hasan Nasbi Sentil Gaya Koboi Purbaya: Rakyat Indonesia Muak Sama yang Teriak-Teriak Agresif Doang!

Repelita Jakarta - Mantan Kepala Kantor Staf Kepresidenan Hasan Nasbi menyentil gaya komunikasi politik yang terlalu agresif dan keras seperti koboi yang belakangan sering muncul di panggung publik.

Menurutnya, budaya masyarakat Indonesia pada dasarnya menolak pendekatan kasar dan berteriak-teriak dalam menyampaikan pendapat politik.

Hasan menilai bahwa meskipun aksi semacam itu sering mendapat sambutan riuh dari kelompok pendukung fanatik, mayoritas rakyat justru merasa risih dan menjauh.

"Karena dalam politik kita, dalam budaya kita, sebagian besar masyarakat itu hidup dalam budaya, kultur, sosial, politik yang gak suka dengan orang yang koboi-koboi gitu," ujar Hasan seperti dikutip pada Kamis, 20 November 2025.

"Gak suka dengan orang yang kenceng ngomongnya, karena dianggap agresif," tambahnya.

Ia mengamati bahwa tepuk tangan ramai dari pendengung atau kelompok kecil sering membuat pelaku terbuai dan lupa diri.

Padahal, sambutan tersebut tidak mewakili suara mayoritas yang lebih menghargai cara penyampaian santun dan beradab.

"Memang tepuk tangannya ramai, wah tepuk tangannya rame kalau ada orang yang berani kritik, berani hantam, berani apa segala macam, yang outspoken gitu," bebernya.

"Itu tepuk tangan rame, tapi tepuk tangan itu bukan tepuk tangan mayoritas," lanjut Hasan.

Gaya keras justru sering berbalik arah dengan memunculkan simpati publik terhadap pihak yang menjadi sasaran serangan.

Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa bullying kasar terhadap figur politik malah meningkatkan dukungan bagi korban.

"Jadi misalnya dengan cara yang agresif, misalnya dulu Pak Jokowi di bully, orang gak makan itu, orang malah jadi simpati terhadap Pak Jokowi," ungkapnya.

Hal serupa juga terjadi pada Prabowo Subianto saat mendapat perlakuan tidak sopan dalam debat pemilu.

"Ketika misalnya dengan cara yang gak sopan juga Pak Prabowo dibully, orang ngeliatnya simpatinya berbalik," katanya.

Hasan menekankan bahwa dalam politik Indonesia, substansi argumen harus diimbangi dengan cara penyampaian yang tetap menjaga etika dan kesopanan.

"Jadi cara itu ternyata juga penting," kuncinya.

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved