Setiap partai pasti memiliki pertimbangan ketat sebelum menerima tokoh baru bergabung mulai dari latar belakang hingga kontribusi elektoral yang bisa diberikan.
Gerindra kadernya menilai lebih banyak negatifnya bila menerima Budi Arie. Sebagian kader Gerindra setidaknya menilai Budi Arie hanya sosok kutu loncat yang tak banyak manfaatnya bagi partainya, jelas Jamiluddin Ritonga.
Penolakan di internal Gerindra sudah menjadi opini dominan yang berkembang luas di kalangan kader.
Budi Arie bisa saja dinilai layaknya virus yang dapat menebar penyakit di Gerindra. Karena itu kader Gerindra merasa lebih baik menghindar dan bahkan menjauh dari virus, tambahnya.
Sementara itu PSI yang dipimpin Kaesang Pangarep memiliki alasan berbeda yaitu Budi Arie dianggap tidak memiliki daya tarik suara yang signifikan bagi partai.
Karena itu PSI merasa tidak perlu menawarkan ke Budi Arie untuk bergabung untuk menjadi kadernya, ujar Jamiluddin Ritonga.
Partai Solidaritas Indonesia menerapkan kriteria ketat dalam merekrut anggota baru di mana setiap calon harus mampu meningkatkan perolehan suara secara nyata.
Karena itu tak ada manfaat bagi PSI merekrut Budi Arie menjadi kadernya.
Dengan ditutupnya pintu oleh dua partai besar tersebut posisi politik Budi Arie Setiadi semakin terpojok di arena perebutan pengaruh pasca-Projo.
Editor: 91224 R-ID Elok

