Buku tersebut, yang disusun bersama ahli telematika Roy Suryo dan pakar forensik digital Rismon Sianipar, berhasil membuka mata publik terhadap teknik seperti error level analysis atau ELA, yang memungkinkan verifikasi keaslian gambar dan dokumen secara mendalam.
Dalam sesi wawancara di program To The Point Aja yang tayang melalui YouTube SindoNews pada Minggu, 30 November 2025, Dokter Tifa menekankan bahwa Dengan peristiwa buku Jokowi’s White Paper, dengan peristiwa ini tuh kita mengangkat derajat kecerdasan masyarakat Indonesia tinggi-tingginya loh. Iya kan? Masyarakat itu mencerdas dengan cepat gitu. Tahu. Oh, ada yang namanya uji kerning. Oh, tahu yang namanya ELA.
Ia menambahkan bahwa pengetahuan tentang facial action coding system kini mulai meresap, di mana sistem ini bisa mendeteksi indikasi ketidakjujuran melalui mikrokekspresi pada wajah individu.
Dokter Tifa melanjutkan dengan pernyataan bahwa Oh, jadi ternyata wajah seseorang itu bisa menampilkan kebohongan dan sebagainya. Yang saya tulis di itu kan karena wawancara seperti ini kan. Jadi, masyarakat tuh benar-benar terangkat tuh kecerdasannya dengan peristiwa ini.
Sementara itu, ia menyiratkan bahwa hanya segelintir kelompok, yang disebut Termul atau pendukung loyal mantan Presiden Joko Widodo, yang belum tersentuh pencerahan ini.
Kelompok minoritas tersebut hanya menyumbang Yang tersisa 7 persen itu, menurut penilaian Dokter Tifa.
Hasil dari penelitian algoritma yang digunakannya menunjukkan bahwa sebagian besar warga Indonesia meyakini keaslian ijazah Jokowi diragukan.
Survei riset Algoritma dan ini sahih 93% masyarakat Indonesia percaya bahwa ijazah ini fake, dan tinggal 7% saja (tidak percaya). Berartikan 7% ini saya identifikasi sebagai termul yang masih percaya dengan tampilan dan pencitraan seperti itu, jelasnya pada kesempatan tersebut.
Karya Jokowi's White Paper ini mencakup 700 halaman analisis komprehensif mengenai proses pembuatan dokumen akademik seperti ijazah dan skripsi, termasuk pemeriksaan elemen pendukung berupa fotografi serta pola perilaku yang terkait.
Publikasi semacam ini tidak hanya menyediakan bukti ilmiah tapi juga berfungsi sebagai sarana pendidikan yang efektif untuk memperkuat kemampuan literasi digital di tengah masyarakat yang semakin kritis.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

