Di tengah dingin pegunungan Wamena, Dahlan mengakui matanya berkaca-kaca bukan karena udara, melainkan karena ingatan bahwa dirinyalah yang membawa Ira kembali ke Indonesia demi mengabdi pada negeri.
Sayalah yang minta dia pulang dari luar negeri, tulis Dahlan dengan nada penuh penyesalan.
Ira yang pernah sukses di perusahaan raksasa Amerika Serikat itu dipercaya Dahlan untuk menahkodai Sarinah, kemudian Pos Indonesia, hingga akhirnya ASDP.
Di tangan Ira, ASDP yang dulu bermasalah berat berhasil mencatat laba tertinggi sepanjang sejarah hingga menembus Rp3 triliun.
Namun justru di puncak prestasi itu, Ira terseret kasus akuisisi Jembatan Nusantara yang dituduhkan sebagai pembelian kapal bekas, tuduhan yang oleh Dahlan disebut sebagai bentuk ketidakpahaman bisnis yang menyakitkan.
Melihat kedunguan seperti itu, dada ini rasanya meledak, ungkap Dahlan.
Hakim anggota Sunoto dalam pendapat minoritasnya menyatakan Ira tidak bersalah karena tindakan tersebut merupakan aksi korporasi yang dilindungi Business Judgement Rule dan telah diaudit tujuh lembaga resmi.
Namun dua hakim lain memutuskan sebaliknya sehingga vonis tetap dijatuhkan.
Di luar persidangan, kesaksian tentang integritas Ira terus bermunculan dari orang-orang terdekatnya.
Ia tetap terbang kelas ekonomi, menginap di hotel sederhana saat dinas, bahkan menggunakan mobil teman saat menghadiri acara keluarga.
Rumahnya di Malang selalu terbuka untuk teman tanpa protokoler, menyuguhkan rawon dan kerupuk udang, bukan kemewahan.
Teman lama seperti Agung Pamujo menceritakan bagaimana Ira merawat istri yang terkena stroke hingga sembuh dan membantu kawan yang terlantar di luar negeri.
Semua itu menjadi bukti bahwa integritas Ira dibangun dari tindakan nyata, bukan dari jabatan atau harta.
Dahlan mengaku tidak sanggup lagi menulis panjang karena rasa bersalah yang terus menggerogoti.
Ia merasa telah memanggil seorang perempuan untuk membangun negeri, namun negeri justru tidak melindungi perempuan itu.
Kisah Ira kini menjadi cermin betapa rapuhnya perlindungan hukum bagi mereka yang mengabdi dengan tulus di sektor publik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

