:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/TUNJUKKAN-IJAZAH-ASLI-Arsul-Sani.jpg)
Repelita Jakarta - Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Beathor Suryadi menyarankan mantan Presiden Joko Widodo untuk mencontoh sikap terbuka yang ditunjukkan hakim Mahkamah Konstitusi Arsul Sani dalam menanggapi tuduhan kepemilikan gelar doktor tidak sah.
Menurutnya tindakan Arsul yang secara langsung memamerkan foto prosesi wisuda beserta ijazah asli dan salinan legalisir dari Warsawa Management University di Polandia merupakan teladan nyata bagi setiap pejabat negara yang menghadapi isu serupa.
Beathor menilai langkah tersebut berhasil membungkam keraguan publik sekaligus menjadi bukti tidak langsung bahwa selama ini dokumen pendidikan Joko Widodo yang selalu disembunyikan justru menguatkan dugaan keabsahannya dipertanyakan.
Dengan tampilnya konferensi pers Prof. Dr. Arsul Sani kemarin sore membuktikan bahwa selama 20 tahun ijazah Jokowi yang tersembunyi itu adalah palsu. Ini meyakinkan rakyat Indonesia.
Ia melontarkan tuduhan keras bahwa selama dua puluh tahun terakhir gelar akademik yang diduga tidak benar tersebut tetap digunakan sebagai syarat sah untuk menduduki berbagai jabatan publik mulai dari wali kota hingga presiden.
Beathor juga menduga adanya upaya sistematis dari oknum di Komisi Pemilihan Umum baik pusat maupun daerah untuk menghapus jejak berkas pencalonan Joko Widodo pada masa lalu.
Lebih jauh ia menuding periode kepemimpinan Joko Widodo telah merusak tatanan berbagai lembaga negara mulai dari kepolisian, kejaksaan, hingga angkatan bersenjata melalui praktik transaksional dalam pengisian jabatan.
Akibat kepemimpinan Jokowi, semua menjadi rusak. Semua jabatan ini dan itu menjadi ga benar, semua sudah dibayar.
Beathor turut menyeret nama Universitas Gadjah Mada sebagai almamater sarjana Joko Widodo dengan mempertanyakan sikap institusi pendidikan tersebut yang dianggap terlalu membela secara berlebihan sehingga reputasinya ikut tercoreng dalam polemik berkepanjangan ini.
Kenapa Jokowi dan kawan-kawannya mengorbankan ijazah UGM untuk permainan politik ini? Menjadi rusaklah UGM yang seharusnya menjadi penerang.
Editor: 91224 R-ID Elok

