Repelita Jakarta - Pernyataan keras disampaikan Prof Koentjoro yang pernah menjabat Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada periode 2018–2021 saat merespons tindakan Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan dr Tifa yang terus mempersoalkan keaslian ijazah Presiden Joko Widodo.
Dalam tayangan Dialektika Madilog Forum di kanal YouTube Forum Keadilan pada Senin 21 Juli 2025, Prof Koentjoro menyebut tiga nama tersebut sebagai pihak yang telah merusak nama baik UGM dengan tudingan yang menurutnya tidak berdasar.
Guru Besar Psikologi UGM ini menegaskan bahwa bukan persoalan ijazah Jokowi asli atau palsu, tetapi soal mau percaya atau tidak pada data akademik resmi yang tercatat di fakultas dan universitas.
Ia menegaskan, berdasarkan penelusurannya sejak lama, Jokowi benar lulusan Fakultas Kehutanan UGM dengan catatan akademik yang sah, dan hal itu sudah dikonfirmasi para dosen serta rekan seangkatan.
Koentjoro pun menyoroti sikap Roy Suryo Cs yang menurutnya melanggar etika penelitian, karena alih-alih membawa bukti ke jalur hukum, justru mengumbar opini dan membentuk massa untuk menekan kampus.
Menurutnya, langkah itu sama sekali tidak mencerminkan kode etik peneliti sejati yang seharusnya menyelesaikan masalah lewat mekanisme resmi tanpa merusak reputasi almamater.
Ia mengakui tidak selalu sejalan dengan kebijakan Jokowi, namun ketika bicara fakta akademik, Koentjoro menegaskan bahwa dia memilih berdiri di barisan kebenaran dan tidak rela nama UGM tercemar karena tuduhan liar.
Dalam pernyataannya, Koentjoro juga mempertanyakan motif di balik kegigihan Roy Suryo Cs menggulirkan isu ijazah palsu, yang menurutnya sarat agenda politik tersembunyi dan bisa menjerumuskan banyak pihak.
Di bagian lain, Koentjoro menilai mantan Rektor UGM Prof Sofian Effendi yang sempat meragukan ijazah Jokowi hanya terjebak informasi salah dari orang-orang yang tidak dapat dipercaya.
Koentjoro menegaskan keyakinannya bahwa Jokowi benar lulusan UGM didasarkan bukan pada dokumen fisik semata, tetapi hasil konfirmasi langsung dengan para dosen, teman kost, dan rekan seangkatan Presiden.
Ia menilai polemik ijazah ini justru membuka ruang bagi Jokowi untuk tetap tampil di hadapan publik dan menunjukkan dirinya tidak tenggelam meski tidak lagi menjabat Presiden.
Sebagai akademisi, Koentjoro mengingatkan kembali pentingnya menjaga nama baik UGM dari serangan tuduhan yang tidak terbukti dan tidak berdasar, seraya menegaskan komitmennya untuk selalu membela kampusnya jika dicemarkan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

