Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Slip of Tongue Polisi Soal Arya Daru Disorot Pakar, Gestur Kombes Wira Dinilai Tanda Ada Tekanan

 Analisa Reza Indragiri soal Kematian Arya Daru, dari Sekian Banyak Temuan Diplomat Muda Kemlu itu Disebut... -

Repelita Jakarta - Pernyataan terbaru dari Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri kembali mengundang sorotan tajam terhadap hasil penyelidikan kematian diplomat Arya Daru Pangayunan yang disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Wira Satya.

Reza menyoroti ucapan Kombes Wira yang dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya pada Rabu 30 Juli 2025 sempat menyebut Arya Daru sebagai korban, padahal polisi telah menyimpulkan tidak ada unsur pidana dalam kasus tersebut.

Menurut Reza, penyebutan istilah korban menandakan adanya hal yang patut dicurigai karena dalam perspektif psikologi forensik, kata korban selalu berpasangan dengan pelaku.

Reza menduga, pernyataan tersebut muncul karena ketidaksengajaan atau slip of tongue yang justru mengungkap hal lebih jujur dari yang diinginkan.

Reza menilai, slip of tongue kerap kali menembus kontrol bawah sadar sehingga perkataan yang seharusnya tertahan justru keluar secara spontan dan memunculkan penafsiran baru.

Ia menilai pernyataan polisi yang menyebut tidak ada tindak pidana menjadi kontradiktif dengan penggunaan kata korban, sehingga menimbulkan kebingungan publik.

“Orang psikologi atau awam pun kan paham mengenai slip of tongue ya, keseleo lidah, orang bisa menafsirkan kalimat atau perkataan yang keluar akibat keseleo itu boleh jadi lebih jujur lho,” ujar Reza.

Menurutnya, sikap otoritas penegakan hukum dalam mengungkap kasus Arya Daru terkesan belum sepenuhnya tuntas dan malah menimbulkan spekulasi.

Reza menambahkan bahwa kontradiksi ini justru menjadi bahan bakar bagi publik untuk mengembangkan dugaan adanya sesuatu yang masih ditutup-tutupi.

Di sisi lain, Pakar Gestur dan Mikroekspresi Monica Kumalasari juga menyoroti ekspresi Kombes Wira Satya saat jumpa pers membahas hasil otopsi Arya Daru.

Monica menyebut adanya helaan napas dan ekspresi kemarahan saat Kombes Wira memaparkan hasil otopsi, termasuk saat menjelaskan bahwa organ tubuh Arya Daru hanya ditemukan kandungan paracetamol.

Monica menjelaskan bahwa gestur tersebut menunjukkan tekanan emosional tinggi, bahkan terindikasi ada hal yang sedang disembunyikan namun sulit dikendalikan.

Analisis Monica melalui dashboard kuadran polar area menyimpulkan bahwa gestur Kombes Wira mengarah pada obstructif dengan kontrol rendah, yang artinya ada tekanan emosional yang berat ketika pernyataan itu disampaikan.

“Apa yang dirasakan masyarakat beresonansi dengan yang menyampaikan. Untuk menyampaikan hal ini tidak mudah. Ikut terbawa,” kata Monica dalam tayangan Apa Kabar Indonesia Pagi TVOne pada Jumat 1 Agustus 2025.

Sementara itu, Kombes Wira Satya menegaskan bahwa hasil penyelidikan menunjukkan Arya Daru meninggal tanpa keterlibatan pihak lain, berdasarkan kronologi kejadian yang mereka miliki.

Dalam kronologi tersebut, polisi memaparkan pergerakan Arya Daru mulai Senin 7 Juli 2025 sejak pukul 07.03 WIB saat berangkat dari kantor, kemudian terpantau di Mal Grand Indonesia pada pukul 17.52 WIB, hingga masuk ke rooftop Gedung Kemlu pukul 21.43 WIB.

Setelah itu, Arya Daru kembali ke kos dan baru ditemukan meninggal pada keesokan harinya Selasa 8 Juli 2025 pukul 07.39 WIB dengan kondisi kepala terlilit lakban.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved