Repelita Bandung - Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menetapkan batas maksimal siswa dalam satu rombongan belajar di tingkat SMA dari 36 menjadi 50 orang menimbulkan polemik di tengah masyarakat.
Salah satu suara penolakan datang dari Atalia Praratya, anggota Komisi VIII DPR RI yang juga istri mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.
Pernyataan Atalia itu memicu gelombang komentar di media sosial yang justru didominasi nada pedas dan dukungan terhadap Dedi Mulyadi.
Atalia mengungkapkan pandangannya saat mengunjungi Sekolah Rakyat Cimahi.
Ia menilai kebijakan penambahan rombel akan mempersulit guru dalam mengajar karena harus menangani jumlah murid yang terlalu besar.
Menurut Atalia, kondisi ini bisa berdampak pada penurunan kualitas belajar mengajar.
Namun pernyataan tersebut justru membuat kolom komentar Instagram @ataliapr diserbu warganet.
Beragam komentar muncul, mulai dari sindiran hingga kritik balik yang mempertanyakan konsistensi Atalia dalam mengawal isu pendidikan.
Salah satu akun menulis, “Ibu mengkritisi gubernur sekarang, tapi kenapa gubernur kemarin tak dikritisi?”
Ada pula komentar yang menyinggung masa kepemimpinan Ridwan Kamil, “Gubernur yang kemarin sibuk sama ikan jeda.”
Di sisi lain, beberapa netizen juga menyorot aspek pribadi, bahkan mengaitkan kritik Atalia dengan sentimen politik.
Menanggapi kritik itu, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa kebijakan rombel 50 siswa merupakan langkah darurat.
Ia menegaskan bahwa keterbatasan ruang kelas dan minimnya pembangunan sekolah negeri menjadi faktor utama.
Menurut Dedi, kebijakan ini bertujuan agar anak-anak Jawa Barat tetap bisa bersekolah di dekat rumah mereka dan terhindar dari risiko putus sekolah.
“Kalau tidak ditampung di dekat rumah, mereka bisa putus sekolah karena harus pindah ke tempat yang jauh,” ujar Dedi.
Di tengah polemik yang melibatkan tokoh politik, publik, dan media sosial, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kebijakan tersebut diambil demi menjamin akses pendidikan bagi seluruh warga Jawa Barat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

