Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Gagasan Panas Rocky Gerung untuk Pemakzulan Gibran: Kirim Mahasiswa ke DPR Seperti Tahun 1998

 Rocky Gerung ke Gibran: Mengundurkan Diri atau Peristiwa 98 Terulang?! - murianetwork.com

Repelita Yogyakarta - Rocky Gerung kembali menjadi sorotan setelah mengemukakan gagasan kontroversial terkait pemakzulan Gibran Rakabuming Raka.

Dalam forum diskusi di Yogyakarta, ia menyerukan agar mahasiswa turun ke jalan dan menggelar demonstrasi di gedung DPR/MPR, mencontoh cara perjuangan Reformasi 1998.

Video berjudul “JANGAN PERNAH MINTA MAKZULKAN GIBRAN KE DPR. CUKUP KIRIM MAHASISWA KE GEDUNG MPR SEPERTI 1998” yang diunggah di kanal YouTube Rocky Gerung Official pada Selasa, 19 Agustus 2025, menampilkan seruannya secara langsung.

Rocky menilai jalur resmi melalui DPR, MK, dan MPR hanya akan berliku dan dipenuhi “tukar tambah politik” yang menghambat proses.

“Saya hanya minta supaya kalau ada demonstrasi mahasiswa, masyarakat sipil, aparat jangan cegah itu.

Aparat justru bisikin aja pada pak presiden, ‘Bapak keadaan sudah berubah, Anda turun atau jadi pati?’ itu menyelesaikan banyak hal lebih efisien,” ujarnya.

Ia membandingkan situasi politik saat ini dengan Reformasi 1998 yang berhasil memaksa Soeharto lengser.

Rocky menyoroti aksi di Pati, Jawa Tengah, yang menurutnya bisa menjadi pemicu cepat meskipun jumlah peserta hanya sekitar 10.000 orang.

“Antropologi politik kita menunjukkan, Pati itu mungkin 10.000 orang saja,” ucapnya.

Ia menekankan kondisi ekonomi yang sulit pulih dan kemarahan publik akibat ketidakpastian sebagai faktor yang dapat mempercepat perubahan melalui demonstrasi mahasiswa.

Menurutnya, “parlemen jalanan” bisa menjadi pemantik perubahan, sama seperti ribuan mahasiswa yang dulu duduk di atas “Gunung Kura-Kura” DPR/MPR.

Rocky menegaskan kritiknya tidak hanya ditujukan pada Presiden Jokowi, tetapi juga Presiden Prabowo Subianto.

“Saya lupa mengkritik Prabowo padahal dia banyak salahnya,” ujarnya.

Meski demikian, fokus utama tetap pada Jokowi karena pencalonan Gibran sebagai wakil presiden dianggap melanggar UU Perlindungan Anak, yang disebutnya sebagai “kejahatan yang masih hidup”.

Ia menekankan oposisi yang diperjuangkannya adalah “kekuatan moral” yang mengutamakan kualitas berpikir, bukan jumlah massa, dan mengaitkannya dengan isu geopolitik, termasuk wacana “Sunda Baru” yang disebut Amerika Serikat sebagai potensi disintegrasi.

“Setelah Antoni ngomong, setelah Indrajit ngomong, investor di Singapura, Tokyo, atau Qatar sudah saling kirim WA.

Mereka tahu ada masalah besar di Indonesia,” ujar Rocky.

Ia menutup wacananya dengan refleksi optimis-pesimis, mengingatkan bahwa ketidakpastian politik hanya butuh satu momentum untuk berubah menjadi “kemendadakan politik”.

“Saya pesimis yang rasional, optimis yang irasional,” tutupnya.

Video Rocky Gerung memicu diskusi luas di media sosial, menimbulkan pertanyaan bagaimana respons mahasiswa sebagai “kartu truf terakhir” dalam dinamika politik pasca-Pemilu 2024.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok.

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved