Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Pejabat Washington Akui Sistem Pertahanan Amerika Kewalahan Hadapi Gempuran Iran

 

Repelita Jakarta - Pejabat tinggi di Washington mengakui bahwa sistem pertahanan udara Amerika Serikat mengalami kesulitan serius dalam menangkal serangan balasan masif dari Iran selama seminggu terakhir.

Laporan dari The Atlantic yang mengutip seorang pejabat kongres menyatakan bahwa militer AS tidak memiliki pertahanan yang cukup kuat untuk menghadapi gempuran drone Shahed buatan Iran.

Seorang sumber yang dikutip menegaskan bahwa kemampuan AS terbukti tidak memadai dalam melawan ancaman drone tersebut secara efektif.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth serta Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine telah mengonfirmasi adanya kesenjangan besar dalam kapabilitas pertahanan terhadap drone Iran.

Investasi pertahanan Amerika lebih diarahkan pada sistem berlapis untuk mengantisipasi ancaman jarak jauh dari negara seperti China dibandingkan ancaman regional dekat dari Iran.

Pengakuan serupa juga tercatat dalam laporan CNN di mana Hegseth menyatakan dalam pengarahan tertutup bahwa drone Shahed-136 memberikan tantangan yang jauh lebih signifikan bagi pertahanan udara AS.

Pejabat pertahanan AS secara terbuka mengakui kewalahan dan kekurangan sistem yang mampu mencegat seluruh serangan drone Iran secara menyeluruh.

Drone Shahed-136 terbukti sangat efektif mengganggu karena diluncurkan dalam jumlah besar dengan biaya produksi hanya sekitar dua puluh ribu hingga lima puluh ribu dolar per unit.

Biaya rendah tersebut membuat penggunaan rudal pencegat AS yang bernilai jutaan dolar menjadi tidak berkelanjutan secara ekonomi dalam jangka panjang.

Pejabat Pentagon dalam sesi pengarahan tertutup mengungkapkan bahwa serangan swarm drone Iran berpotensi melampaui kapasitas pertahanan udara di pangkalan-pangkalan wilayah Teluk.

Upaya Amerika saat ini mencakup pengembangan sistem anti-drone baru serta teknologi imitasi drone Shahed yang diberi nama LUCAS untuk menghadapi ancaman serupa dari Teheran.

Meskipun AS masih mempertahankan keunggulan udara secara keseluruhan kemampuan Iran melancarkan drone secara masif tetap menjadi hambatan utama bagi pencegatan total.

Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat serta Israel telah memasuki hari ketujuh tanpa tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.

Teheran justru terus memperluas jangkauan serangan ke wilayah pendudukan Israel serta berbagai basis militer Amerika di kawasan Timur Tengah.

Aksi balasan tersebut diperkirakan akan berlanjut lama mengingat sikap tegas Iran yang menolak segala bentuk negosiasi dengan Washington.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menegaskan bahwa pihaknya tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat dalam kondisi apapun.

Ia mengkritik pernyataan Presiden Donald Trump dengan menyatakan bahwa Trump kini cemas atas kerugian lebih lanjut yang dialami tentara Amerika.

Ali Larijani menambahkan bahwa Trump telah mengubah prioritas America First menjadi Israel First sehingga mengorbankan pasukan AS demi ambisi pihak lain.

Pasukan IRGC baru-baru ini melancarkan gelombang ke-24 Operasi Janji Sejati 4 pada Sabtu dini hari sebagai pembalasan atas agresi tanpa provokasi dari AS dan Israel.

Serangan tersebut menyasar pusat wilayah pendudukan dengan tiga rudal yang diarahkan ke Tel Aviv dan diklaim berhasil mencapai target yang telah ditentukan.

IRGC telah menghantam sejumlah target AS dan Israel di kawasan regional menggunakan kombinasi rudal serta drone hingga Maret 2026.

Berbagai sumber menyebutkan antara empat belas hingga dua puluh tujuh pangkalan militer AS di Timur Tengah menjadi sasaran serangan balasan.

Data citra satelit mengindikasikan setidaknya enam lokasi utama mengalami kerusakan signifikan termasuk markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama Bahrain yang mengalami kehancuran parah pada beberapa fasilitas.

Pangkalan Al Udeid di Qatar sebagai salah satu instalasi terbesar AS juga terdampak serangan berat.

Serangan serupa menyasar fasilitas militer di Kuwait serta Uni Emirat Arab.

IRGC mengklaim ratusan korban jiwa di pihak militer AS sementara Pentagon dan CENTCOM menyatakan bahwa sebagian besar proyektil berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved