Repelita Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran tanpa ruang untuk negosiasi apa pun di tengah eskalasi konflik militer.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan tidak akan ada kesepakatan kecuali unconditional surrender dari Teheran.
Ia bahkan mengklaim perang ini akan membuat Iran hebat kembali setelah penyerahan tersebut.
Sikap keras Trump tersebut bertabrakan langsung dengan penegasan pejabat militer Iran yang menolak segala bentuk dialog dan bertekad melanjutkan perlawanan.
Wakil Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Brigadir Jenderal Kiomars Heidari menegaskan Iran tidak akan mundur dan tidak akan menghentikan perang ini sampai musuh belajar dari kesalahannya.
Pernyataan itu menjadi respons tegas terhadap tuntutan Trump yang dianggap mengorbankan kepentingan Amerika demi prioritas lain.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani juga menolak negosiasi dengan Washington sambil mengkritik perubahan slogan America First menjadi Israel First.
Konflik memasuki hari ketujuh dengan Iran terus melancarkan serangan balasan masif menggunakan drone Shahed dalam jumlah besar ke basis militer AS dan wilayah pendudukan.
Sistem pertahanan udara Amerika dilaporkan kewalahan menghadapi serangan drone murah tersebut karena biaya pencegatan yang tidak sebanding.
Pejabat Pentagon mengakui penggunaan sistem mahal seperti Patriot untuk menangkal drone berbiaya rendah tidak berkelanjutan jangka panjang.
Kerugian AS mencapai miliaran dolar dengan hancurnya pangkalan di berbagai negara kawasan serta hilangnya ratusan aset udara termasuk jet tempur dan drone.
Korps Garda Revolusi Islam mengklaim ratusan personel AS tewas sementara Washington memerintahkan evakuasi warganya dari kawasan hanya tiga hari setelah perang dimulai.
Perang fase kedua dipicu pada 28 Februari 2026 dengan pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei beserta keluarganya oleh serangan gabungan AS-Israel.
Washington tampaknya mengharapkan keruntuhan cepat Republik Islam pasca kejadian itu.
Namun rakyat Iran justru turun ke jalan setiap malam menyatakan dukungan kuat kepada pemerintah mereka.
Lebih dari seribu dua ratus warga sipil Iran tewas termasuk seratus tujuh puluh anak perempuan dalam serangan terhadap sekolah.
Senator AS menyuarakan kekecewaan atas kurangnya alasan jelas dan strategi akhir dalam keputusan memulai perang.
Sekutu Eropa seperti Jerman Inggris dan Prancis khawatir atas dampak ekonomi termasuk kenaikan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyerukan penghentian destabilisasi Iran dan mengkritik serangan terhadap warga sipil.
Iran bersikeras melanjutkan operasi pembalasan seperti gelombang ke-24 Operasi Janji Sejati 4 yang menargetkan Tel Aviv dengan tiga rudal yang diklaim mengenai sasaran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

