![]()
Repelita Teheran - Di tengah pertempuran sengit antara Iran dan Israel yang telah memasuki hari kelima sebuah pernyataan tegas muncul dari keluarga pendiri Revolusi Islam Iran melalui cucu mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.
Sayyid Ali Ahmad Khamenei dalam wawancara eksklusif dengan stasiun televisi Al Mayadeen pada empat Februari dua ribu dua puluh enam menegaskan bahwa nasib Israel sudah ditentukan dan hanya tinggal menunggu waktu pelaksanaannya.
Ia menyatakan bahwa orang Israel memahami benar bahwa pada hari bangsa Islam memperoleh kesempatan mereka akan menghapus Israel sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Hamas.
Pernyataan tersebut kini semakin relevan mengingat situasi perang terbuka paling intens dalam beberapa dekade terakhir antara Iran dengan Israel serta Amerika Serikat sebagai sekutunya.
Sayyid Ali Ahmad Khamenei yang selama ini jarang tampil di publik merupakan cucu dari Imam Ruhollah Khomeini pendiri Republik Islam Iran yang memimpin revolusi pada tahun sembilan belas tujuh puluh sembilan.
Dalam wawancara yang sama ia menegaskan bahwa upaya Amerika Serikat dan Tel Aviv untuk menjatuhkan Republik Islam Iran telah mengalami kegagalan total tanpa hasil apa pun.
Ia menyampaikan pesan keras kepada Amerika bahwa orang-orang Amerika akan mati dan tidak akan menyaksikan kehinaan kami kehinaan rakyat kami maupun kehinaan negara kami sebagaimana para pendahulu mereka juga telah mati.
Sayyid Ali Ahmad Khamenei membandingkan nasib kekuatan yang menentang Teheran dengan Firaun yang mati di puncak kejayaannya sesuai kutipan dari mendiang Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.
Ia juga menyentuh isu sensitif bagi negara-negara Teluk dengan menegaskan bahwa semua negara muslim termasuk negara-negara Teluk pada akhirnya akan ikut membombardir Israel begitu mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa solidaritas umat Islam akan mengatasi kepentingan sempit di tengah upaya propaganda Amerika Serikat dan Israel untuk menyeret negara-negara Arab ke dalam konflik langsung melawan Iran.
Ia menekankan bahwa rakyat Iran berakar kuat di tanah ini kami milik tanah ini sementara pihak lainlah yang harus pergi jika perang besar benar-benar terjadi.
Pernyataan tersebut terbukti relevan setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam yang menewaskan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.
Sejak saat itu Iran melancarkan Operasi Janji Sejati 4 dengan serangan balasan yang menewaskan dan melukai lebih dari enam ratus delapan puluh personel militer Amerika Serikat serta Israel.
Serangan balasan Teheran tidak hanya menyasar wilayah Israel tetapi juga sejumlah pangkalan militer Amerika di negara-negara Teluk termasuk Bahrain dan Arab Saudi.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa sejumlah staf Pentagon mengalami luka akibat serangan Iran di Bahrain sementara Kedutaan Besar Amerika di Riyadh dilaporkan terbakar setelah terkena serangan drone.
Hamas serta kelompok perlawanan Palestina lainnya menyatakan dukungan penuh kepada Iran dan menyebut serangan Amerika Serikat serta Israel sebagai agresi terang-terangan.
Brigade Al-Qassam sayap militer Hamas menekankan bahwa dukungan Iran selama puluhan tahun menjadi faktor penting dalam operasi mereka pada tujuh Oktober dua ribu dua puluh tiga.
Sayyid Ali Ahmad Khamenei menggambarkan masa depan Revolusi Islam sebagai jalan yang dimulai dari pengorbanan dan berakhir pada kesyahidan tanpa kemungkinan mundur.
Ancaman untuk menghapus Israel bukanlah hal baru melainkan narasi yang telah diwariskan sejak pendiri Republik Islam pada tahun sembilan belas tujuh puluh sembilan dan terus diulang oleh para pemimpin berikutnya.
Di tengah gempuran rudal dan drone yang saling bergantian pernyataan dari cucu pendiri revolusi menjadi pengingat bahwa konflik ini merupakan perang eksistensial yang diwariskan lintas generasi bagi Iran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

