Repelita Jakarta - Pengamat ilmu politik Saidiman Ahmad menilai sikap China dalam konflik Iran melawan Israel dan Amerika Serikat jauh dari prediksi banyak pihak yang mengira Beijing akan terlibat langsung membantu Teheran jika situasi semakin memburuk.
Konflik tersebut dimulai ketika Israel dan Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 sehingga memicu spekulasi keterlibatan sekutu Iran seperti Rusia dan China.
Ketika Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran dimulai pada 28 Februari 2026 banyak yang memperkirakan sekutu Iran seperti Rusia dan Cina akan melibatkan diri ujar Saidiman dikutip fajar.co.id pada Minggu 8 Maret 2026.
Jika dua kekuatan besar itu benar-benar turun tangan maka sekutu utama Amerika Serikat juga akan ikut serta sehingga berpotensi memicu perang dunia ketiga.
Meskipun konflik terus meningkat Saidiman menilai perang tersebut masih relatif terisolasi di kawasan tertentu dan belum meluas menjadi konflik global.
Walaupun Iran melancarkan serangan ke teritori sejumlah negara Teluk di luar Israel seperti Qatar Bahrain Kuwait UAE Arab Saudi Oman Yordania dan Irak bahkan juga Siprus dan Azerbaijan namun perang ini masih relatif terisolasi terangnya.
Salah satu penyebab utama konflik belum berkembang menjadi perang dunia adalah sikap Rusia dan China yang tidak memberikan keterlibatan militer secara langsung.
Respons Rusia dan Cina tidak seperti yang dibayangkan banyak orang sebelumnya Cina misalnya hanya memberi imbauan agar pihak-pihak terkait menghentikan operasi militer imbuhnya.
Hingga kini tidak ada tanda-tanda Beijing memberikan bantuan militer langsung kepada Iran termasuk pengiriman amunisi atau alat perang secara massif seperti rumor yang sempat beredar di awal konflik.
Tidak ada upaya dari Beijing untuk melibatkan diri secara langsung membantu Iran tidak ada pengiriman amunisi dan alat-alat perang yang massif ke Iran seperti rumors yang sempat muncul di hari-hari pertama perang bebernya.
Saidiman mengutip analisis Yun Sun dalam artikel Why China Won't Help Iran di Foreign Affairs yang menjelaskan aliansi China-Iran lebih didasari kepentingan pragmatis daripada ikatan ideologis.
Penjelasan utamanya adalah bahwa aliansi Cina dengan Iran sejauh ini lebih soal kepentingan dibanding ideologi Saidiman menuturkan.
Bagi Beijing stabilitas pasokan energi menjadi prioritas utama daripada siapa yang memimpin Iran atau bentuk sistem politik negara tersebut.
Cina tidak ada urusan dengan siapa pun yang memimpin Iran juga dengan sistem politik apa pun negara itu dikelola tegasnya.
Perhatian utama China di Timur Tengah adalah memastikan aliran minyak tetap aman sehingga selama kepentingan itu tidak terganggu Beijing cenderung bersikap pasif.
Perhatian mereka hanya pada kepentingannya yakni aliran minyak dari Timur Tengah aman sejauh kepentingan ini tidak terganggu Cina akan anteng-anteng saja imbuhnya.
Bahkan sebagian kalangan di China memandang Iran memiliki persoalan internal yang serius termasuk korupsi pemerintahan buruk dan infiltrasi intelijen Israel di aparat keamanan serta pertahanannya.
Sejumlah pihak di Cina melihat Iran dan rezim yang menguasainya bermasalah jelas Saidiman.
Dalam beberapa tahun terakhir Iran dianggap terlalu membesar-besarkan kekuatan militernya karena respons terhadap serangan Israel dan Amerika tidak sebanding dengan reputasi yang dibangun.
Dalam beberapa kali serangan Israel dan Amerika ke Iran misalnya serangan pada Juni 2025 pembunuhan Qasim Suleimani pada 2020 juga serangan pada kedutaan Iran di Suriah 2024 dianggap tidak mendapatkan respons memadai dari negara yang selama ini dianggap punya kekuatan militer yang dahsyat kata dia.
Dari sisi ekonomi kekuatan Iran hanya sekitar seperempat dari Arab Saudi sehingga kondisi tersebut menjadi pertimbangan Beijing dalam menjaga jarak.
Dari sisi ekonomi negara ini sebetulnya sangat rapuh kekuatan ekonominya hanya sekitar 25 persen dari kekuatan ekonomi Arab Saudi Saidiman menuturkan.
Ketika Israel menyerang Hamas dan Hizbullah sebagai proxy Iran Teheran dianggap tidak memberikan bantuan signifikan sehingga memperkuat persepsi bahwa kekuatannya tidak sebesar yang diklaim.
Dibanding mempertahankan aliansi dengan rezim islamis Iran yang rapuh akan lebih baik mengamankan kesempatan untuk melonggarkan ketegangan dengan Amerika Serikat tandasnya.
Saidiman menyimpulkan pendekatan China bersifat sangat pragmatis sehingga stabilitas energi dan hubungan dagang dengan Amerika lebih diutamakan daripada keterlibatan dalam konflik militer.
Mungkin begitu pikiran Xi Jinping daripada perang mending dagang kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

