Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

[BREAKING NEWS] Trump Terancam Dimakzulkan karena Perintahkan Operation Epic Fury Tanpa Persetujuan Kongres, Langgar Konstitusi AS

 Presiden Amerika Donald Trump soal Iran

Repelita Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi ancaman pemakzulan yang semakin kuat setelah serangan militer gabungan dengan Israel terhadap fasilitas di Iran pada akhir Februari dua ribu dua puluh enam.

Operasi yang diberi nama Operation Epic Fury tersebut diklaim berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior lainnya.

Desakan pemakzulan menguat tajam karena serangan dilakukan tanpa persetujuan resmi Kongres sehingga dianggap melanggar konstitusi khususnya Pasal satu Bagian delapan yang memberikan wewenang perang kepada legislatif.

Anggota Kongres dari Partai Demokrat seperti Alexandria Ocasio-Cortez dan Al Green secara terbuka menuduh Trump melakukan pelanggaran berat karena memerintahkan operasi militer besar tanpa mandat kongresional.

Beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS telah memperkenalkan resolusi pemakzulan seperti H.Res. tiga ratus lima puluh tiga atas tuduhan kejahatan berat dan pelanggaran ringan.

Pada awal Maret dua ribu dua puluh enam perdebatan di lantai DPR terkait pasal-pasal pemakzulan tersebut mulai bergulir meskipun peluang berhasilnya tetap rendah karena dominasi Partai Republik di DPR dan Senat.

Partai Demokrat berharap memanfaatkan isu ini untuk memperkuat posisi mereka pada Pemilu Sela tahun dua ribu dua puluh enam mendatang.

Senator Mark Warner dari Komite Intelijen Senat menyatakan tidak ada ancaman langsung yang membenarkan serangan tersebut sehingga lebih memprioritaskan kepentingan Israel daripada keamanan nasional Amerika Serikat.

Trump menegaskan serangan bertujuan menghancurkan kemampuan rudal Iran mencegah kepemilikan senjata nuklir serta menghentikan pendanaan kelompok proksi.

Iran segera membalas dengan serangan rudal ke berbagai posisi sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah termasuk klaim mengenai kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta markas angkatan udara.

Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya IRGC Ebrahim Zolfaghari menyatakan serangan rudal Khyber gelombang ke-10 itu terencana matang mengejutkan dan berhasil memberikan pukulan telak.

Nasib Benjamin Netanyahu hingga kini masih belum jelas sehingga memicu spekulasi luas serta keadaan siaga tinggi di Israel dan komunitas internasional.

Kurangnya informasi terverifikasi menyebabkan volatilitas signifikan di pasar global serta menempatkan saluran diplomatik pada posisi sangat rentan.

Perkembangan ini menandai titik kritis dalam konflik yang terus mengubah keamanan regional serta hubungan internasional dalam waktu singkat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved