Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Bisa-bisanya Donald Trump Nyari Untung Manfaatkan Krisis Selat Hormuz: Jual Asuransi Risiko Politik ke Kapal Tanker demi Untung Besar

 

 Repelita Jakarta - Donald Trump disebut memanfaatkan penutupan Selat Hormuz oleh Iran untuk meraup keuntungan melalui skema asuransi risiko politik yang ditawarkan United States International Development Finance Corporation.

Presiden AS itu mengumumkan kebijakan baru melalui Truth Social pada Selasa tanggal 3 Februari 2026 di mana DFC akan menyediakan asuransi dengan premi sangat terjangkau bagi kapal-kapal komersial yang nekat melintas di Teluk Persia.

Pengumuman tersebut muncul tepat saat ancaman Iran terhadap kapal tanker semakin nyata sehingga banyak pelaku usaha maritim panik mencari perlindungan finansial dari risiko penyitaan penyergapan atau kerusakan akibat konflik.

Trump menulis bahwa asuransi tersebut efektif segera dan bertujuan menjamin keamanan finansial seluruh perdagangan maritim terutama energi yang melintasi Teluk dengan harga yang sangat wajar.

Langkah ini dinilai sebagian pengamat sebagai upaya Washington mengambil keuntungan dari krisis yang diciptakan oleh eskalasi militer AS-Israel terhadap Iran sendiri.

Dengan menawarkan jaminan asuransi melalui lembaga negara Amerika Serikat Trump secara tidak langsung memposisikan negaranya sebagai penyedia solusi sekaligus penerima premi dari kapal-kapal yang terpaksa melintas di zona bahaya.

Banyak analis ekonomi menyoroti ironi di balik kebijakan tersebut karena penutupan Selat Hormuz dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel yang dimulai akhir pekan lalu.

Akibatnya sekitar dua puluh persen pasokan minyak dunia terancam terganggu sehingga harga minyak mentah melonjak lebih dari dua belas persen dalam hitungan hari.

Trump juga membuka kemungkinan Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker jika diperlukan sehingga paket asuransi plus pengawalan militer menjadi tawaran lengkap yang menguntungkan pihak Amerika.

Kritik tajam muncul dari kalangan independen yang menyebut ini sebagai bentuk kapitalisasi perang di mana Amerika Serikat menciptakan masalah lalu menjual solusi dengan harga premium.

Selat Hormuz yang menjadi titik rawan utama kini benar-benar menjadi ladang bisnis baru bagi lembaga keuangan AS di bawah arahan Trump.

Sementara negara-negara pengimpor minyak di Asia dan Eropa terpaksa menanggung biaya tambahan yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen akhir di seluruh dunia.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved