:strip_icc()/kly-media-production/medias/5491545/original/056954800_1770099023-1001588980.jpg)
“Siswa SD bunuh diri akibat pemerintah gagal jamin keadilan sosial,” ujar Rocky Gerung. Kritik ini bukan sekadar retorika, melainkan cermin dari kenyataan pahit yang menampar nurani bangsa. Seorang anak kehilangan nyawa hanya karena tidak mampu membeli buku tulis, sementara pemerintah sibuk membanggakan program makan siang gratis (mbg).
Mbg dipoles sebagai kebijakan unggulan, seolah menjadi jawaban atas penderitaan rakyat. Namun kenyataannya, program ini hanya memberi makan sekali sehari tanpa menyentuh akar masalah. Hidup tidak berhenti pada satu kali makan siang.
Anak-anak bangsa membutuhkan pendidikan yang layak, buku untuk belajar, seragam, biaya transportasi, kesehatan, dan jaminan masa depan. Membanggakan mbg sama saja dengan menutup mata terhadap kenyataan bahwa rakyat membutuhkan pekerjaan layak dan penghasilan stabil.
Orang tua yang memiliki pekerjaan layak akan mampu memenuhi kebutuhan anak-anaknya tanpa harus bergantung pada program instan. Tetapi ketika ekonomi keluarga rapuh, bahkan kebutuhan sederhana seperti buku tulis pun menjadi beban berat. Inilah yang membuat tragedi seperti bunuh diri seorang anak SD terjadi—sebuah ironi yang seharusnya menggugah nurani bangsa.
Pemerintah harus berhenti menjadikan mbg sebagai kebanggaan. Kebijakan yang benar adalah membuka lapangan kerja, memperkuat UMKM, dan memastikan upah layak. Dengan ekonomi rakyat yang kuat, anak-anak bangsa tidak akan lagi kehilangan harapan hanya karena selembar buku tulis.
Bangsa ini tidak butuh pencitraan sesaat, tetapi keberanian untuk menata ekonomi rakyat. Kritik Rocky Gerung menjadi pengingat bahwa keadilan sosial tidak bisa dibangun dengan makan siang gratis, melainkan dengan kesejahteraan yang nyata. Hentikan kebanggaan palsu atas mbg, karena yang dibutuhkan adalah masa depan yang layak dan harapan yang nyata bagi anak-anak bangsa.(*)

