Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Eksodus Kader NasDem ke PSI Tak Menjamin Kenaikan Elektoral, Jokowi Jadi 'Umpan'?

Migrasi Elite Nasdem ke PSI Tak Menjamin Kenaikan Elektoral

Repelita Jakarta - Bergabungnya sejumlah tokoh senior Partai NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi perhatian publik.

Ahmad Ali dan Rusdi Masse adalah beberapa nama besar yang memutuskan untuk bergabung dengan partai yang identik dengan lambang mawar tersebut.

Pengamat politik Nurul Fatta memberikan pandangannya mengenai fenomena migrasi elite ini. Ia menilai bahwa perlu dikaji lebih dalam mengenai dampaknya terhadap potensi peningkatan elektabilitas PSI di masa depan.

"Apakah perpindahan ini akan benar-benar meningkatkan elektoral PSI pada Pemilu 2029?" tanya Fatta, pada Senin (2 Februari 2026).

Selama ini, PSI dinilai terlalu bergantung pada satu tokoh sentral, yaitu Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Namun, strategi PSI kini terlihat berubah dengan menjadikan Jokowi sebagai daya tarik utama untuk menarik elite-elite politik lainnya agar bergabung.

Menurut Fatta, langkah ini sejalan dengan karakteristik sistem proporsional terbuka yang berlaku di Indonesia, di mana pemilih cenderung lebih fokus pada figur calon daripada partai politiknya.

Ia memperkirakan bahwa peluang PSI untuk lolos ke parlemen tetap terbuka lebar jika para elite yang bergabung mampu mengelola basis dukungan masing-masing dengan baik.

"Jika elite-elite PSI sama-sama fokus merawat basis dan berhasil memenangkan pertarungan di sekitar 30 daerah pemilihan (dapil), saya yakin PSI bisa lolos ke parlemen jika parliamentary threshold tetap 4 persen," jelasnya.

Fatta juga menilai bahwa momentum ini dapat dimanfaatkan oleh PSI untuk memperkuat struktur kepengurusan di tingkat daerah dengan memanfaatkan jaringan politik yang dimiliki oleh para tokoh yang baru bergabung.

Di sisi lain, Fatta berpendapat bahwa perpindahan tokoh-tokoh tersebut tidak serta merta menjadi ancaman serius bagi NasDem.

Menurutnya, NasDem akan tetap menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan, kecuali jika tokoh sentral seperti Surya Paloh ikut berpindah ke partai lain.

Lebih lanjut, Fatta menilai bahwa fenomena "loncat partai" ini mencerminkan kondisi politik di Indonesia yang minim ikatan ideologis.

Ia bahkan menyebut hal ini sebagai indikasi lemahnya partai politik secara kelembagaan.

Fatta juga menyoroti bahwa banyaknya elite yang bergabung dengan PSI dapat diartikan sebagai kegagalan kaderisasi internal partai tersebut.

Oleh karena itu, ia meragukan kemampuan PSI untuk bertahan dalam jangka panjang.

"Saya yakin, meskipun PSI menjadi partai besar, mereka tidak akan bertahan lama seperti PDIP," pungkas Nurul Fatta.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved