
Repelita Jakarta - Selama hampir satu dekade Donald Trump muncul sebagai salah satu figur paling memecah belah di panggung global yang dikagumi sekaligus dikritik tajam oleh berbagai kalangan.
Ia sering dipandang sebagai pahlawan oleh pendukungnya sementara dianggap sebagai bahaya oleh lawan-lawannya.
Banyak orang cenderung menilai Trump berdasarkan penampilan luarnya daripada memahami pola pikir mendalam yang membentuk tindakannya.
Untuk benar-benar mengerti Trump kita harus melihatnya bukan sebagai politikus konvensional melainkan sebagai produk dari dunia usaha hiburan dan perundingan ketat.
Trump tidak lahir dari lingkungan politik tradisional seperti kebanyakan presiden AS yang berasal dari kalangan senator atau pejabat pemerintahan lama.
Ia muncul dari ranah properti dan bisnis yang penuh persaingan sengit di mana kemenangan dan kerugian menjadi ukuran utama tanpa ruang untuk sikap sopan jika berujung kerugian.
Di dunia itu segala hal ditentukan oleh keuntungan tekanan dan hasil konkret tanpa basa-basi berlebihan.
Ketika menjabat sebagai presiden Trump membawa pola pikir bisnis itu ke arena politik internasional tanpa meninggalkannya.
Itulah kunci utama untuk memahami dirinya yaitu melihat dunia sebagai panggung transaksi besar di mana segala hubungan harus menguntungkan.
Banyak pemimpin global berbicara tentang nilai bersama dan kerjasama antarnegara sementara Trump lebih fokus pada biaya defisit perdagangan dan kontribusi masing-masing pihak.
Bagi Trump aliansi seperti NATO bukan ikatan moral melainkan kesepakatan bisnis yang harus seimbang dan adil bagi Amerika.
Jika Amerika merasa membayar terlalu banyak ia akan protes keras dan menuntut perubahan.
Gaya bicaranya yang sering terlihat kasar mungkin bukan kebetulan melainkan strategi dalam negosiasi untuk menciptakan ketidakpastian bagi lawan.
Dalam perundingan ketidakpastian bisa menjadi keuntungan karena membuat pihak lain lebih hati-hati dan akhirnya mau berunding.
Cuitan mendadak pernyataan tegas dan ancaman tarif semuanya membangun tekanan mental yang efektif di era media sosial.
Trump memahami dinamika media modern di mana kontroversi bisa menjadi sumber kekuatan karena menarik perhatian luas.
Semakin ia dikritik semakin ia menjadi pusat diskusi yang memperkuat basis pendukungnya.
Hubungannya dengan media bukan sebagai korban melainkan sebagai pemain aktif yang memanfaatkan perhatian untuk keuntungan politik.
Trump lebih mengandalkan hubungan pribadi daripada protokol diplomatik formal dalam berinteraksi dengan pemimpin dunia lain.
Pendekatannya terhadap Kim Jong Un misalnya memecah pola konvensional dari ancaman konflik menjadi dialog langsung meski isu nuklir belum terselesaikan sepenuhnya.
Kesepakatan Abraham Accords juga menunjukkan kemampuannya mengubah dinamika hubungan di Timur Tengah dengan membuka jalur antara negara Arab dan Israel.
Trump paham bahwa kekuatan ekonomi seperti sanksi bisa lebih ampuh daripada konflik militer langsung.
Tekanan finansial terhadap Iran tanpa perang besar menjadi contoh bagaimana ia memanfaatkan dominasi dolar AS sebagai alat geopolitik.
Banyak orang merasa tidak nyaman dengan Trump karena ia membongkar ilusi diplomasi yang sering dibungkus kata-kata indah sementara esensinya tetap kepentingan nasional.
Trump menyatakan secara terbuka apa yang biasanya disembunyikan sehingga terlihat jujur bagi sebagian orang tapi merusak bagi yang lain.
Namun pendekatan transaksionalnya bisa mengikis kepercayaan jangka panjang antar sekutu karena hubungan terasa dingin dan tak pasti.
Kebijakannya juga sangat bergantung pada dirinya sehingga rentan berubah saat pemimpin berganti.
Gaya cepatnya memberikan hasil instan tapi tidak selalu berkelanjutan dan sering memecah masyarakat menjadi kubu loyal serta penentang sengit.
Trump bukan ideolog ketat melainkan pragmatis yang lebih peduli pada kemenangan daripada penampilan sopan.
Ia adalah perunding komunikator massa dan pemain psikologi yang memahami dunia apa adanya tanpa hiasan.
Kontroversinya mungkin karena ia mencerminkan realitas geopolitik di mana kepentingan mendominasi dan ia memainkannya secara terbuka.
Itulah yang membuat banyak orang gelisah bukan karena Trump sendiri melainkan karena cara pandangnya seringkali mencerminkan kenyataan yang tak sepenuhnya salah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

