Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Yusuf Dumdum Bela Pandji Pragiwaksono: Sindiran Wajah Ngantuk Gibran Picu Serangan Buzzer Hipokrit

Usai Diroasting Pandji dengan Mata Ngantuk, Gibran Pamer Foto Bareng  Musisi: Sejarah Membuktikan - Tribun-medan.com

Repelita Jakarta - Aktivis media sosial Yusuf Dumdum membela komika Pandji Pragiwaksono yang menghadapi serangan dari pendukung mantan Presiden Jokowi.

Kontroversi muncul setelah pertunjukan stand-up comedy spesial Mens Rea milik Pandji menjadi viral di berbagai platform.

Yusuf menilai kemarahan sebagian kelompok disebabkan oleh lelucon Pandji yang menyentil Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Gibran disindir muka ngantuk oleh Pandji para Termul langsung ngamuk. Padhal kan emang fakta," ujar Yusuf pada postingan di akun X-nya @yusuf_dumdum pada Rabu (7/1/2026).

Ia menganggap respons yang timbul terlalu berlebihan dan menunjukkan kepanikan.

"Saking paniknya sampai buzzer dikerahkan untuk mnyerang Pandji dari sisi moral dan etika. Kan lucu!," tambahnya.

Yusuf kemudian membandingkan sikap para pengkritik tersebut dengan kasus amendemen undang-undang di Mahkamah Konstitusi yang memfasilitasi karier politik Gibran.

Menurutnya, masalah moral dan etika tidak banyak diperdebatkan pada saat itu.

“Apa mereka lupa ketika undang-undang dirubah sang paman di MK demi anak kesayangan, kok gak ada yang bicara soal moral dan etika?," lanjut Yusuf.

Ia juga menyoroti hukuman etik berat yang diterima Ketua MK kala itu sambil mempertanyakan keberimbangan pendukung Jokowi-Gibran.

“Bahkan sampai sang paman akhirnya disanksi melanggar etik berat. Kalian lupa atau emang gak waras?,” tegasnya.

Lebih lanjut, Yusuf menyatakan bahwa sindiran sederhana dari Pandji justru dibalas dengan narasi victimhood.

Ia menilai pola ini sudah sering terjadi dalam politik tanah air.

“Cuma disindir soal wajah ngantuk langsung playing victim merasa terdzolimi. Basih tahu gak! Lagi-lagi gaya lama dimainkan,” jelasnya.

Yusuf mengaku sudah kebal terhadap upaya mencari simpati yang dianggapnya palsu.

“Memelas supaya mendapat perhatian dan pembelaan. Sorry ye sorry! Gw udah gak mempan dengan gaya melas kalian,” tutupnya.

Sebelumnya, Pandji menjelaskan bahwa Mens Rea bukan ditujukan untuk menyasar individu atau kelompok spesifik.

Banyak penonton salah paham terhadap isi materinya.

“Orang berpikir Mens Rea itu dibikin untuk nyenggol ini, nyenggol itu,” kata Pandji pada Selasa (6/1/2026).

Namun, ia menegaskan target utama adalah masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

“Yang disenggol oleh Mens Rea, rakyat Indonesia,” ujarnya tegas.

Pandji menyebut seluruh materi dari awal hingga akhir bertujuan mendorong kesadaran publik tentang tanggung jawab dalam demokrasi.

Ia merasa kondisi politik saat ini juga menjadi beban bersama rakyat.

“Gua ngerasa kondisi politik kita itu sebenarnya tanggung jawab kita juga,” ungkapnya.

Pandji mencontohkan kecenderungan menyalahkan DPR atau pemerintah tanpa menyadari bahwa wakil rakyat mencerminkan masyarakat pemilih.

“Cuma kita sering banget, ih salah ini, salah ini, DPR kacau. Lah DPR kan rata-rata rakyat,” paparnya.

"Ia melanjutkan, Kan perwakilan rakyat, rata-rata rakyat kayak gitu ya lu dapet orang kayak gitu," tambah Pandji.

Oleh karena itu, ia mengimbau publik untuk memperbaiki diri guna mengharapkan perubahan positif di ranah politik.

“Kalau nggak pengen dapat orang kayak gitu, yah benahi diri kita. Gue jamin sejamin-jaminnya,” katanya.

Pandji juga memastikan Mens Rea dapat dinikmati semua lapisan, termasuk yang awam politik.

“Orang nggak ngerti politik, masuk Mens Rea, keluar ngerti. Gue jamin. Belum tentu suka, tapi ngerti,” jelasnya.

Penonton berpengetahuan politik akan lebih puas dengan referensi yang disuguhkan.

“Mens Rea itu orang yang ngerti politik akan happy, ketawa-ketawa,” imbuhnya.

Sementara bagi yang kurang paham, tetap ada elemen hiburan murni.

“Orang yang nggak ngerti politik juga akan happy, walaupun harus gua akuin yang nggak ngerti politik ada kayak orang nonton film tuh, ih itu,” ungkap Pandji.

Ia mengakui penonton berlatar politik akan lebih lengkap menangkap nuansa.

“Memang yang ngerti politik akan dapat referensi lebih lengkap. Tapi gue jamin orang yang nggak ngerti politik akan terhibur juga,” pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved