
Repelita Jakarta - Dokter Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa memaparkan hasil metasintesis perbandingan dua kelompok foto yang mewakili versi berbeda dari wajah Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo.
Analisis ini secara khusus membandingkan foto versi berkacamata dengan kumis serta rambut tebal terhadap foto wajah tanpa kacamata, tanpa kumis, dan rambut lebih tipis.
Pendekatan yang digunakan Tifa bersifat ilmiah dengan memanfaatkan perhitungan matematis untuk memastikan hasil yang objektif.
Ia menggelar penjelasan tersebut melalui akun X @DokterTifa pada 6 Januari 2026.
Sebagai epidemiolog, Tifa menekankan bahwa kemampuan analisis numerik merupakan bagian esensial dari kompetensinya.
Model utama yang dipilih adalah Teorema Bayesian yang dikombinasikan dengan elemen dari ilmu anatomi, morfologi, frenologi, serta pengamatan perilaku.
Variabel yang dijadikan dasar pengukuran mencakup bentuk tulang kepala, proporsi wajah atas, tengah, dan bawah, serta struktur rahang dan dagu.
Selain itu, morfologi hidung, pola rambut, dan garis batas rambut juga menjadi parameter penting dalam perbandingan.
Semua elemen visual tersebut diterjemahkan menjadi nilai angka sebelum diproses melalui rumus matematis Bayesian.
Hasil akhir menunjukkan tingkat persamaan antara foto versi berkacamata dengan wajah Jokowi tanpa kacamata hanya mencapai 0,29 persen.
Sementara itu, tingkat perbedaan mencapai 99,71 persen berdasarkan probabilitas posterior Bayesian.
Tifa menyimpulkan bahwa kedua kelompok foto tersebut menggambarkan individu yang berbeda secara signifikan dari segi anatomi dan morfologi.
Analisis ini didasarkan pada indikator visual yang diubah menjadi data kuantitatif untuk menghindari interpretasi subjektif.
Tifa menegaskan bahwa pendekatan ilmu bilangan merupakan metode yang netral dan sesuai dengan prinsip penciptaan yang terukur.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

