![]()
Repelita Jakarta - Operasi militer Amerika Serikat yang berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya telah memicu kekhawatiran luas dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Tindakan tersebut, yang awalnya diklaim sebagai upaya memerangi kartel narkoba, dinilai banyak pihak sebagai langkah untuk menguasai cadangan minyak Venezuela yang melimpah.
Founder JDN Indonesia, dr Andi Khomeini Takdir Haruni, menyampaikan keprihatinannya atas intervensi AS yang bertujuan merebut kekayaan alam negara lain.
"Trump vs Maduro dan istrinya. Dikemas seolah itu untuk demokratisasi Venezuela," ujar Andi Khomeini pada Minggu, 4 Januari.
Dugaan motif penguasaan energi semakin kuat setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa perusahaan minyak Amerika akan segera beroperasi di Venezuela.
"Tak berapa lama, dengan enteng Presiden AS bilang bahwa perusahaan minyak Amrik akan masuk ke Venezuela. Motifnya udah gak malu-malu lagi diutarakan. Merebut paksa sumber daya negara lain," tambahnya.
Andi Khomeini kemudian mempertanyakan respons komunitas internasional terhadap aksi sepihak yang menyimpang dari alasan awal perang melawan narkoba.
Ia juga mengingatkan posisi Indonesia yang kaya sumber daya alam dan menjadi incaran serupa dari Amerika Serikat.
Beberapa waktu lalu, Trump pernah menyatakan keinginan AS untuk mendapatkan akses penuh terhadap kekayaan alam Indonesia.
"Ini sudah beda banget situasinya. Posisi Indonesia yang juga kaya SDA bagaimana?," tegas Andi Khomeini.
Sementara itu, jaringan berita Israel Channel 13 menyebutkan bahwa dalih memerangi perdagangan narkoba hanya sebagai kedok untuk kepentingan strategis yang lebih besar.
Terutama akses terhadap cadangan minyak Venezuela yang merupakan terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi, serta mengcounter pengaruh Rusia dan China di wilayah tersebut.
Channel 13 menyoroti bahwa angka kematian akibat narkoba dari Venezuela yang diklaim Washington jauh dilebih-lebihkan dibandingkan data independen.
Trump dilaporkan akan memastikan perusahaan minyak AS beroperasi di sana hingga transisi kekuasaan terjadi.
Aksi ini mendapat kritik tajam dari berbagai kalangan dalam dan luar negeri.
Mantan Wakil Presiden AS Kamala Harris menilai tindakan tersebut ilegal dan berpotensi merugikan kepentingan Amerika.
Di Prancis, politisi Jean-Luc Mélenchon mengutuknya sebagai penculikan serta penjarahan minyak yang brutal.
Sebaliknya, pejabat Israel termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memuji langkah Trump sebagai kepemimpinan bersejarah.
Pemerintah Venezuela menyebut serangan itu sebagai agresi militer, mengumumkan keadaan darurat, dan mendesak sidang Dewan Keamanan PBB.
Negara seperti Iran dan Rusia mengutuk keras operasi tersebut karena berisiko mendestabilisasi kawasan dan dunia.
Pada Sabtu lalu, ledakan serta asap tebal terlihat di Caracas dan wilayah lain, mengonfirmasi adanya serangan militer AS.
Editor: 91224 R-ID Elok

