Repelita Jakarta - Analis politik Agus Wahid menilai ada indikasi kepanikan di kalangan mantan Presiden Joko Widodo terkait polemik keaslian ijazahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan pada 7 Januari 2026.
Menurutnya, semakin sering dibantah justru membuat dugaan kejanggalan semakin kuat di mata publik.
Karena panik atau memang itu adanya? Sebuah pertanyaan yang layak kita lontarkan sejalan dengan opini yang berkembang bahwa di balik penguakan kasus ijazah palsu Jokowi ada dua nama besar, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri.
Agus menduga ada peran dua tokoh besar yaitu Susilo Bambang Yudhoyono serta Megawati Soekarnoputri dalam masifnya penyebaran isu tersebut.
Ia menyoroti berbagai temuan yang terus muncul termasuk foto pada ijazah sarjana Universitas Gadjah Mada.
Tak bisa dipungkiri, data ijazah Jokowi kian terkuak kepalsuannya. Berbagai elemen terkait langsung, seperti foto yang digunakan pada ijazah UGM diakui langsung oleh anak Dumatno. ‘Itu foto ayahku,’ jelasnya.
Anak Dumanto disebut mengakui bahwa foto tersebut milik ayahnya.
Sebelumnya, Dumanto pun diancam untuk tutup mulut. Bahkan, konon, disumpal dengan Rp10 miliar.
Agus juga mengklaim adanya upaya pembungkaman dengan imbalan uang mencapai Rp10 miliar.
Selain itu, ia membandingkan ijazah Jokowi dengan dokumen lulusan Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1985 lainnya.
Belum lagi analisis komparatif ijazah Fakultas Kehutanan UGM yang lulus tahun 1985. Hasilnya, ijazah yang diakui milik Jokowi beda dengan mereka yang lulus pada tahun yang sama.
Perbedaan format dan detail menjadi bukti tambahan menurut analisisnya.
Ratusan dokumen akademik lain dinilai semakin menguatkan dugaan pemalsuan tersebut.
Situasi ini membuat Jokowi semakin terjepit dan menimbulkan dampak pada kondisi kesehatan serta mentalnya.
Pendek kata, Jokowi kian terpojok. Dan itulah yang membuatnya panik, di samping dampaknya terhadap fisiknya.
Perubahan penampilan fisik Jokowi juga menjadi spekulasi meski masih memerlukan verifikasi lebih dalam.
Masih perlu dibuktikan lebih jauh. Namun, di luar perkembangan fisik itu, ada satu kata yang tak bisa dipungkiri, Jokowi panik.
Dalam rangka menyelamatkan diri Jokowi melontarkan tuduhan, ada orang besar yang sengaja memainkan ijazah palsu Jokowi. Tersebutkan lagi dari sebuah partai biru. Juga, menyinggung emak Banteng.
Jokowi disebut merespons dengan menuding adanya aktor besar dari partai berlambang biru dan simbol banteng.
Meski begitu, masyarakat berhak memperoleh informasi transparan mengenai kredensial pejabat tinggi.
Polemik ini menjadi bagian dari penilaian terhadap legacy sepuluh tahun kepemimpinan Jokowi di bidang ekonomi, politik, hukum, dan hak asasi manusia.
Rakyat berhak tahu atau mendapatkan informasi ijazah sosok pejabat negara. Rakyat semakin getol bergerak, karena sepuluh tahun kekuasaannya telah membawa negeri ini hancur-minah secara ekonomi, politik, hukum, dan HAM.
Isu ini berpotensi membuka pintu pertanggungjawaban hukum lebih lanjut di masa depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

