Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Tahanan Demo Agustus 2025 Alami Kejang Sebelum Meninggal di Rutan Medaeng

 Kasus Molotov Grahadi Terhenti, Terdakwa Alfarisi Meninggal di Rutan Medaeng

Repelita Surabaya - Tahanan kasus demonstrasi Agustus 2025 bernama Alfarisi bin Rikosen meninggal dunia di Rumah Tahanan Kelas I Medaeng pada Selasa pagi, 30 Desember 2025.

Alfarisi yang berusia 21 tahun mengalami kejang-kejang sebelum akhirnya dinyatakan meninggal sekitar pukul 06.00 WIB.

Informasi tersebut pertama kali diterima KontraS Surabaya dari keluarga korban sekitar pukul 08.30 WIB.

Rekan satu sel Alfarisi menyaksikan langsung gejala kejang yang dialaminya sebelum kejadian fatal itu.

Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya Fatkhul Khoir menilai peristiwa ini sebagai bukti kegagalan negara dalam memberikan perlindungan hak hidup tahanan.

“Kematian Alfarisi ketika berada dalam penguasaan penuh negara menunjukkan kegagalan negara dalam melindungi hak atas hidup dan memastikan perlakuan yang manusiawi bagi tahanan,” tegas Fatkhul dalam keterangan resminya.

Alfarisi ditangkap aparat Polrestabes Surabaya pada 9 September 2025 di tempat indekosnya kawasan Jalan Dupak Masigit, Kecamatan Bubutan.

Ia dijerat pasal terkait kepemilikan atau keterlibatan senjata api, amunisi, maupun bahan peledak berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 junto Pasal 55 dan 56 KUHP.

Setelah ditangkap, Alfarisi awalnya ditahan di markas polisi sebelum dipindahkan ke Rutan Medaeng.

Proses hukumnya baru akan memasuki tahap penuntutan pada 5 Januari 2026.

Alfarisi meninggal sebelum ada vonis pengadilan yang berkekuatan hukum tetap sehingga masih berstatus terdakwa.

KontraS mencatat penurunan berat badan ekstrem Alfarisi hingga mencapai 30 hingga 40 kilogram selama masa tahanan.

Kondisi tersebut dianggap sebagai tanda tekanan psikologis berat serta ketidakcukupan fasilitas kesehatan dan lingkungan penahanan.

Hal ini bertentangan dengan standar minimum internasional yang mewajibkan negara menjamin kesehatan fisik dan mental tahanan tanpa diskriminasi.

Pada kunjungan keluarga terakhir tanggal 24 Desember 2025, Alfarisi tidak menyampaikan keluhan medis yang mendesak.

Federasi KontraS bersama unit Surabaya mendesak investigasi independen dan terbuka atas kematian Alfarisi.

Mereka juga menuntut pertanggungjawaban aparat yang diduga lalai serta evaluasi keseluruhan sistem penahanan di Rutan Medaeng dan fasilitas serupa lainnya.

Fatkhul Khoir menegaskan bahwa kasus ini merupakan bagian dari pola berulang kematian tahanan, khususnya pada kasus dengan latar belakang politik dan kebebasan berpendapat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved