Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Sapaan yang Terhubung Kembali: Ibu, Maninjau, dan Ingatan Panjang

Penulis: Rina Syafri

Sejak tahun 2016, komunikasi antara aku dan sosok yang kupanggil “ibu” terhenti. Beliau adalah Herlina Hasan Basri, bukan ibu kandungku, melainkan sosok yang hadir dalam hidupku lewat komunikasi yang baik dan intens. Dalam setiap percakapan, beliau menyapaku dengan panggilan “nak”, dan aku pun membalas dengan panggilan “ibu”. Hubungan itu sederhana, namun penuh makna, karena menghadirkan rasa kedekatan yang melampaui status formal.

Waktu berjalan begitu cepat, dan seperti banyak hubungan yang tergerus oleh kesibukan dan jarak, aku pun tak lagi tahu bagaimana kabarnya. Namun dua hari lalu, sebuah berita mengguncang kesadaranku: Maninjau, kampung halaman Buya Hamka sekaligus kampung halaman beliau, dilanda banjir bandang.

Berita itu bukan sekadar informasi bencana. Ia membawa serta gelombang ingatan yang selama ini tertimbun di sudut hati. Aku teringat Herlina Hasan Basri, sosok yang selalu kusapa dengan panggilan “ibu.” Dalam benakku, wajahnya muncul begitu jelas, begitu hangat, seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan kami.

Beliau memang sejak sebelum aku mengenalnya sudah berdomisili di Jakarta, tepatnya di Tangerang. Namun kabar tentang banjir bandang di kampung halamannya di Maninjau membuatku tergerak untuk kembali menyapa. Aku mencari akun WhatsApp-nya, dengan harapan yang tak terlalu tinggi. Aku hanya ingin tahu: apakah beliau baik-baik saja?

Alhamdulillah, beliau membalas. Sebuah balasan sederhana, namun mengandung makna yang dalam. Dalam satu pesan itu, ada kelegaan, ada haru, ada rasa syukur yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ternyata, meski waktu dan jarak memisahkan, ada ikatan yang tak pernah benar-benar putus.

Banjir bandang di Maninjau bukan hanya bencana alam. Ia menjadi pemantik kesadaran bahwa hubungan manusia, terutama yang dibangun atas kasih dan penghormatan, bisa bertahan melampaui tahun-tahun sunyi. Ia mengingatkan bahwa dalam setiap tragedi, ada ruang untuk refleksi, untuk kembali, untuk menyambung yang sempat terputus.

Aku tidak tahu bagaimana kondisi beliau saat ini secara rinci. Tapi balasan itu cukup untuk menghidupkan kembali rasa hormat dan kasih yang dulu pernah tumbuh. Herlina Hasan Basri bukan sekadar sosok yang menyapaku “nak”, melainkan ibu dalam makna: tempat pulang dari rasa, tempat berteduh dari kenangan.

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering membuat kita lupa pada orang-orang yang pernah hadir dalam hidup, momen seperti ini menjadi pengingat. Bahwa kita tidak hidup sendiri. Bahwa ada orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kita, dan mereka layak untuk diingat, disapa, dan didoakan.

Maninjau adalah kampung yang sarat makna. Ia bukan hanya tanah kelahiran Buya Hamka, tapi juga simbol kebijaksanaan, ketenangan, dan kedalaman nilai. Ketika kampung itu dilanda banjir, rasanya seperti luka yang menyentuh bukan hanya tanah, tapi juga jiwa.

Semoga Maninjau segera pulih. Semoga mereka yang terdampak diberi kekuatan dan ketabahan. Dan semoga kita semua belajar, bahwa dalam setiap bencana, ada pelajaran tentang kemanusiaan, tentang kepedulian, dan tentang pentingnya menjaga hubungan.

Aku bersyukur telah mengirim pesan itu. Aku bersyukur Herlina Hasan Basri membalas. Dan aku bersyukur bahwa dalam dunia yang serba cepat dan sering dingin, masih ada ruang untuk hangatnya sapaan dan balasan dari seseorang yang selalu kupanggil “ibu.”(*)

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved