
Repelita Jakarta - Proses pembersihan tumpukan kayu dan lumpur di wilayah Tapanuli Selatan, khususnya Desa Garoga, telah mulai dijalankan oleh berbagai pihak termasuk masyarakat setempat, tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta personel TNI.
Kondisi terkini tersebut terekam dalam unggahan relawan sekaligus influencer Sukma Aura melalui akun Instagram @orapopoww.
“Ini sebenarnya udah banyak yang dibersih-bersihkan, udah banyak yang dipinggirkan,” katanya dalam video yang diunggah.
Sungai di area tersebut sudah mengalami pembersihan agar aliran air dapat kembali lancar tanpa hambatan.
Sukma Aura juga memperlihatkan situasi Desa Garoga pasca diterjang banjir bandang yang membawa gelondongan kayu dari hutan.
Tumpukan kayu dengan berbagai ukuran terlihat berserakan dan tertimbun lumpur tebal.
“Rata-rata rumah di sini hancur, kayu-kayu yang terbawa dari sungai, menghantam rumah warga sampai rumahnya terbawa arus, hilang. Ini namanya gunung kayu,” tambahnya.
“Sedih melihat kondisi di sini, setragis itu. Lebih tragis dari yang di dalam media sosial,” ungkapnya lebih lanjut.
Sejumlah warga Garoga yang terekam dalam video tersebut menceritakan pengalaman mencekam saat banjir menerjang permukiman.
“Dulu rumah-rumah di situ. Untung kejadiannya siang, kalau malam habis semua,” ujar salah seorang warga.
Banjir bandang terjadi sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB.
“Kayu sama air, bercampur. Itu (kayu) yang ngabisin rumah-rumah ini,” lanjut warga tersebut.
Sawah yang baru saja ditanami langsung mengalami kerusakan parah akibat luapan air dan material kayu.
Kepala BNPB Suharyanto menyatakan bahwa Tapanuli Selatan merupakan daerah dengan dampak paling berat dari bencana tersebut.
“Rusak berat banyak di Tapanuli Selatan, ada dua desa yang mungkin pernah muncul di video itu kayu-kayu gelondongan besar segala macam, ternyata itu di Tapanuli Selatan,” katanya dalam konferensi pers update kebencanaan pada 30 November 2025.
Kayu-kayu berukuran besar yang menghantam hunian warga menyebabkan banyak rumah masuk kategori rusak berat.
Pada saat itu, Bupati Tapanuli Selatan meminta bantuan sebanyak 100 unit gergaji mesin untuk memotong dan memecah kayu-kayu tersebut.
Untuk Desa Garoga khususnya, pembersihan material kayu menjadi fokus utama dari pemerintah bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Kementerian tersebut menetapkan tiga prioritas, yaitu pembersihan di bagian hilir sungai, pemantauan lokasi rawan longsor di hulu, serta sistem peringatan dini kepada warga terkait kemungkinan banjir susulan yang disertai material kayu.
Editor: 91224 R-ID Elok

