Repelita Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Garuda Teddy Gusnaidi mempertanyakan asal usul tuduhan ijazah palsu yang terus digencarkan Roy Suryo bersama kelompoknya terhadap Presiden ketujuh Republik Indonesia Joko Widodo.
Ia mengaku keheranan dengan munculnya isu tersebut yang tidak memiliki dasar jelas sama sekali.
Teddy menilai narasi yang dibangun Roy Suryo dan rekan-rekannya sejak mula tidak didukung bukti apa pun.
Isu itu tiba-tiba saja menyebar luas tanpa ada pemicu peristiwa yang nyata.
Tidak ada angin tidak ada hujan informasi semacam itu langsung disebarkan secara masif.
Teddy yang selama ini dikenal getol membela Jokowi menyatakan bahwa masyarakat sendiri tidak mengetahui akar persoalan sebenarnya.
Ia bahkan bertanya kepada publik apakah ada yang tahu penyebab awal tuduhan tersebut.
Pada 19 November 2025 Teddy Gusnaidi menyampaikan pertanyaannya melalui akun X @TesdGus dengan pernyataan Ada yang tau gak? Apa pemicu awal sehingga Roy Suryo cs menyebarkan info bahwa ijazah Jokowi palsu, Walaupun mereka sama sekali tidak punya bukti, Karena gak ada angin, gak ada hujan, tiba-tiba info itu disebar, serta Gue tanya, ternyata gak ada yang tau. Ada yang tahu?.
Sebelumnya Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya telah menetapkan delapan orang sebagai tersangka kasus penyebaran hoaks ijazah palsu milik Presiden Joko Widodo.
Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Asep Edi Suheri menerangkan bahwa tersangka dibagi dalam dua klaster berbeda.
Klaster pertama berisi lima orang sementara klaster kedua tiga orang.
Khusus klaster kedua tersangka berinisial RS RHS dan TT.
Penetapan status dilakukan setelah gelar perkara berbasis pendekatan ilmiah menyeluruh.
Penyidik menemukan bukti penyebaran informasi bohong disertai pengubahan dokumen secara digital dengan cara tidak bertanggung jawab.
Para tersangka dinyatakan telah menyebarkan tuduhan tanpa dasar serta melakukan manipulasi yang tidak ilmiah sehingga menyesatkan masyarakat.
Klaster pertama meliputi Eggi Sudjana Kurnia Tri Royani Damai Hari Lubis Rustam Effendi dan Muhammad Rizal Fadillah.
Sementara klaster kedua mencakup Roy Suryo Rismon Hasiholan Sianipar serta Tifauzia Tyassuma yang dikenal sebagai dr Tifa.
Editor: 91224 R-ID Elok

