Pujian tersebut langsung menuai kritik tajam dari Ketua Dewan Direksi GREAT Institute Syahganda Nainggolan yang menilai perbandingan itu tidak masuk akal mengingat perbedaan reputasi internasional dan kemampuan bahasa Inggris.
Ya pasti nggak (ikhlas), tapi itu kan kekonyolan sendiri oleh Bloomberg, Clinton dengan reputasi internasional yang luar biasa dengan Jokowi yang bahasa Inggris terbata-bata disamakan, nggak mungkin kan, ujar Syahganda Nainggolan melalui kanal Youtube Bambang Widjojanto pada Minggu 23 November 2025.
Syahganda menduga kehadiran Jokowi di acara elite semacam itu tidak mungkin tanpa imbalan finansial mengingat statusnya kini bukan lagi kepala negara.
Karena kalau dia diundang sebagai presiden, saya pikir itu hak, maksudnya sebagai pimpinan negara wajar kan gitu. Ini kan bukan pimpinan negara, bahasa Inggrisnya terbata-bata, pengalamannya juga mencurigakan buat bangsa Indonesia, jelasnya.
Ia menegaskan bahwa perusahaan bisnis seperti Bloomberg tidak akan mengundang seseorang secara cuma-cuma tanpa ada transaksi di belakangnya.
Tidak mungkin Jokowi masuk gratisan di situ karena ini perusahaan bisnis bukan yayasan sosial. Kalau yayasan pengabdian masyarakat bisa saja, tapi kalau ini ya nggak mungkin dong, pungkas Syahganda.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

