
Repelita Teheran - Penasihat Pemimpin Revolusi Islam, Ali Akbar Velayati, menegaskan bahwa era dominasi Amerika Serikat telah usai dan dunia kini bergerak menuju tatanan multipolar yang lebih adil.
Velayati menelusuri akar sejarah kekuatan politik dan ekonomi AS, mengaitkan ambisi globalnya dengan praktik kolonial Eropa pada abad ke-15 yang membentuk dasar kebijakan imperialisme modern Amerika.
Ia menekankan bahwa Amerika Serikat lahir dari prinsip diskriminasi rasial dan kolonialisme, dengan konflik internal yang mencerminkan kesenjangan ekonomi dan politik yang mendalam.
Menganalisis abad ke-20, Velayati menyatakan bahwa setelah Perang Dunia II, AS berupaya menjadi satu-satunya kekuatan global, namun ide ini segera ditentang oleh negara-negara berkembang yang menolak dominasi unilateral.
Ia menyoroti kebangkitan Rusia di bawah Presiden Vladimir Putin dan pertumbuhan Tiongkok sebagai faktor penting dalam membentuk kembali dinamika global, termasuk melalui aliansi strategis seperti BRICS.
Velayati mencatat bahwa Amerika Serikat kini menghadapi krisis legitimasi di berbagai kawasan, mulai dari Asia Barat hingga Amerika Latin dan Asia Timur, saat mencoba memperluas pengaruhnya.
Ia mengkritik kebijakan pemerintahan Trump terkait Palestina, menegaskan bahwa hak-hak rakyat Palestina tidak bisa dinegosiasikan dan harus dijaga.
Menurut Velayati, AS berupaya menguasai jalur energi dan perdagangan regional, menekan Pakistan dan India untuk mempertahankan kehadirannya, serta mencari pangkalan baru di sekitar pelabuhan Gwadar dan Chabahar untuk menghadang Tiongkok.
Penasihat itu menegaskan bahwa Iran memainkan peran strategis dalam tatanan global baru yang berbasis keadilan dan kerja sama, tetap teguh melawan imperialisme, dan mendukung gerakan perlawanan di dunia. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok

