
Repelita Pidie Jaya - Seekor gajah Sumatera yang termasuk satwa dilindungi ditemukan tewas dalam kondisi terperangkap di antara tumpukan kayu gelondongan dan lumpur tebal yang terbawa luapan banjir bandang di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada akhir pekan kemarin.
Penemuan bangkai tersebut terjadi di kawasan terpencil yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki selama dua jam, di mana separuh tubuh gajah terkubur dalam material banjir sementara kepalanya terlihat menunduk ke arah tanah basah.
Warga setempat yang pertama kali melihat kejadian ini mengaku terkejut karena desa mereka tidak pernah menjadi habitat gajah, sehingga dugaan kuat bahwa hewan besar itu terseret arus deras dari hulu Sungai Meureudu yang kini terisolasi akibat longsor dan banjir lanjutan.
Kehadiran puluhan batang kayu hutan berukuran raksasa di lokasi penemuan memicu kecurigaan warga bahwa aktivitas perusakan alam di daerah pegunungan atas menjadi pemicu utama kekuatan banjir yang mematikan ini.
Muhammad Yunus, salah seorang penduduk desa, menyatakan bahwa mereka tidak pernah menyaksikan kayu sebesar itu mencapai permukiman sebelumnya, dan warga kesulitan memindahkan bangkai gajah karena medan sulit serta keterbatasan alat bantu.
Tim gabungan dari kepolisian, unit identifikasi forensik, dan penyidik tindak pidana kehutanan segera turun ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara guna menentukan penyebab pasti kematian satwa tersebut.
Forum Jurnalis Lingkungan Aceh menilai insiden ini sebagai peringatan dini akan degradasi ekosistem hutan yang semakin parah, di mana volume kayu gelondongan yang terbawa menunjukkan adanya praktik ilegal yang merusak daerah resapan air alami.
Kelompok tersebut mendesak pemerintah daerah setempat beserta aparat penegak hukum untuk segera melacak asal-usul kayu-kayu tersebut serta melakukan penyelidikan mendalam terhadap potensi pembalakan tanpa izin di kawasan hulu sungai.
Banjir bandang yang melanda Pidie Jaya sejak beberapa hari lalu tidak hanya menewaskan gajah Sumatera, tetapi juga merendam ratusan rumah, memutus akses jalan utama, dan memaksa puluhan keluarga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Koalisi Badan Usaha Milik Negara turut angkat bicara dengan meminta tiga polisi daerah di wilayah Sumatra untuk mengejar pelaku dugaan pembalakan liar yang diduga memperburuk bencana serupa di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Pemerintah Aceh menyebut kejadian ini sebagai tsunami kedua bagi daerah tersebut, dengan dampak yang meluas hingga merenggut nyawa manusia serta merusak infrastruktur vital seperti jembatan dan pertanian di sekitar sungai.
Upaya evakuasi bangkai gajah dan pembersihan material banjir sedang digalakkan oleh tim SAR gabungan, sementara hotline darurat dibuka untuk melaporkan temuan kayu mencurigakan guna mencegah kejadian serupa di masa depan.
Editor: 91224 R-ID Elok

