Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Digulingkan Oposisi hingga Kabur Ke Moskow, Ini Kronologi Jatuhnya Kekuasaan Bashar al-Assad di Suriah

Presiden Suriah Bashar Al Assad dalam foto bertanggal 17 Mei 2018 yang dikeluarkan kantor kepresidenan Rusia, Kremlin.

Jakarta, 9 Desember 2024 - Pemberontak Suriah berhasil menggulingkan Presiden Bashar al-Assad setelah serangan kilat yang mengejutkan. Dalam waktu kurang dari dua minggu, oposisi mampu merebut sejumlah kota besar dari tangan pemerintah. Saat ini, Assad dikonfirmasi berada di Moskow.

Aron Lund, peneliti dari lembaga pemikir Century International, menyebutkan bahwa keberhasilan pemberontakan dipicu oleh kelemahan rezim Assad serta minimnya dukungan internasional. Selain itu, kesuksesan Abu Mohammed al-Jolani, pemimpin militan pemberontak, dalam membangun struktur dan memusatkan kekuatan juga memainkan peran penting.

Perang saudara yang berkepanjangan di Suriah dimulai pada 2011, ketika protes antipemerintah mulai mendapatkan tekanan keras dari Assad. Situasi di lapangan tetap bertahan selama beberapa tahun hingga serangan besar dari pemberontak terjadi. Tentara Assad mengalami penurunan signifikan akibat korban jiwa, pembelotan, dan penurunan moral yang parah.

Menurut Syrian Observatory for Human Rights, tentara Suriah tidak memberikan perlawanan berarti di beberapa daerah setelah pemberontakan mulai berlangsung pada 27 November. David Rigoulet-Roze dari Institut Prancis untuk Urusan Internasional dan Strategis menyatakan bahwa tentara Assad menghadapi kekurangan pasokan, moral yang rendah, dan penurunan jumlah personel.

Untuk mempertahankan posisi, Assad bergantung pada dukungan dari Rusia dan Iran. Rusia memainkan peran krusial melalui intervensi udara yang mengubah gelombang perang di awal konflik. Namun, serangan pemberontak kali ini terjadi saat Rusia sedang fokus menghadapi perang di Ukraina. Sementara itu, Iran telah memberikan dukungan militer kepada pasukan Assad melalui penasihat dan kelompok bersenjata.

Namun, Iran juga mengalami masalah di lapangan. Dengan kehadirannya di Suriah yang melemah akibat konflik di Lebanon dan pertarungan dengan Israel, banyak pejuang Hizbullah harus ditarik kembali untuk berfokus menghadapi musuh di negara tetangga tersebut. Hal ini membuat posisi Assad semakin sulit untuk dipertahankan.

Para analis seperti Nick Heras dari New Lines Institute menyebutkan bahwa masa depan Assad sangat tergantung pada sejauh mana sekutunya, Rusia dan Iran, masih melihat Assad sebagai aset strategis yang dapat membantu kepentingan mereka di kawasan.

Sumber-sumber militer dan analis internasional mengungkap bahwa Assad tidak lagi menjadi pemimpin efektif bagi angkatan bersenjata Suriah. Tentara yang pernah kuat telah menjadi bayangan dari kekuatan sebelumnya, sementara oposisi semakin memperkuat posisinya di berbagai wilayah strategis.

Dengan jatuhnya Damaskus ke tangan pemberontak, situasi Suriah semakin tidak stabil dan penuh ketidakpastian. Semua pihak, baik sekutu maupun musuh, memantau perkembangan ini sambil mempertimbangkan kepentingan strategis mereka di Timur Tengah. (*)

Editor: Elok WA R-ID

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved