Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ironi Impor Beras dari Amerika

 

Penulis: Rina Syafri

Keputusan pemerintah menyetujui impor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat lewat skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) adalah sebuah ironi yang sulit diabaikan. Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Bahkan pernah mencapai swasembada beras di era Soeharto. Kini, pada masa Prabowo yang mengklaim surplus beras, publik justru disuguhi kabar impor dari negeri yang lebih identik dengan gandum dan jagung ketimbang sawah padi.

Inilah kontradiksi yang menggelikan. Selama ini impor beras datang dari Thailand, Vietnam, atau Filipina. Baru kali ini terdengar Indonesia membeli beras dari Amerika.

Sebetulnya pemerintah mengklaim Indonesia surplus beras. Dikatakan bahwa produksi beras nasional mencapai 34,69 juta ton pada 2025. Namun fakta impor menimbulkan pertanyaan: surplus itu seperti apa dan untuk siapa?

Mari kita lihat sawah padi di Amerika. Apa iya ada ladang padi (rice field) di sana? Dan seberapa luas?

Amerika memang memiliki sawah padi. Mereka memproduksi beras di Arkansas, California, Louisiana, dan Texas. Tetapi sistemnya mekanis, bukan model pertanian padi seperti Asia pada unumnya.

Ironi terasa ketika Indonesia yang punya jutaan petani justru membeli beras dari Amerika. Apa sebabnya?Apa yang salah?

Apakah pembelian beras Amerika itu hanya berrujuan untuk meramaikan koridor diplomasi atau memang ada kebutuhan nyata?

Pemerintah menegaskan impor ini hanya untuk beras klasifikasi khusus, bukan karena kekurangan stok. Artinya, langkah ini lebih bernuansa diplomasi dagang ketimbang kebutuhan pangan. Namun bagi rakyat, simbol tetap berbicara: negara lumbung padi membeli beras dari negeri yang bukan identik dengan sawah. Ironi ini menimbulkan kesan bahwa klaim surplus hanyalah retorika.

Kelihatannya kebijakan ini bukan sekadar soal angka 1.000 ton yang relatif kecil, melainkan soal citra dan konsistensi. Indonesia harus berhati-hati agar tidak kehilangan wajah sebagai bangsa agraris. Jika surplus benar adanya, maka impor beras dari Amerika hanya akan memperkuat kesan bahwa pemerintah tidak konsisten dalam menjaga narasi pangan nasional.(*)

Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved