Breaking Posts

6/trending/recent

Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

[GERAM] Rocky Gerung: Republik Kehilangan Etos, Anak NTT Meninggal Karena Buku Rp10 Ribu Sementara Negara Siap Keluar Rp17 Triliun untuk Dewan Trump

 

Repelita Jakarta - Pengamat politik Rocky Gerung menyampaikan kritik mendalam terhadap kondisi etos bernegara di republik saat ini dengan nada miris yang tertahan dalam pemaparannya.

Di hadapan foto tiga tokoh besar republik yaitu Sutan Sjahrir Jenderal Sudirman serta Hoegeng Iman Santoso Rocky Gerung menegaskan bahwa ketiga figur tersebut menjadi pengingat akan adanya etos bernegara yang kini semakin memudar.

Ia sengaja menampilkan gambar-gambar tersebut pada Selasa 3 Februari 2026 untuk menekankan hilangnya nilai-nilai keberpihakan dalam pengelolaan negara.

Rocky Gerung membandingkan dua realitas yang timpang yaitu rencana iuran sebesar satu miliar dolar Amerika atau sekitar enam belas koma tujuh triliun rupiah untuk dewan perdamaian global yang dikaitkan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Di sisi lain ia menyoroti peristiwa tragis di Nusa Tenggara Timur di mana seorang anak berusia sepuluh tahun meninggalkan surat kepada ibunya setelah keinginan memiliki buku seharga sepuluh ribu rupiah tidak terpenuhi karena keterbatasan ekonomi.

Rocky Gerung menanyakan berapa nilai sepuluh ribu rupiah tersebut dibandingkan enam belas koma tujuh triliun rupiah sebagai bentuk penegasan skala moral yang timpang dalam kebijakan negara.

Menurutnya peristiwa di NTT menjadi cermin retaknya republik ketika beban hidup begitu berat hingga dirasakan anak-anak sementara negara sibuk dengan angka-angka besar di panggung internasional.

Ia menyebut kejadian tersebut sebagai alarm keras bahwa terjadi ketidakseimbangan dalam prioritas publik serta cara negara memihak rakyatnya.

Rocky Gerung menilai republik saat ini kehilangan etika republikanisme dan digantikan oleh etos kerajaan yang menekankan kekuasaan nyaman oposisi yang melemah serta pertemuan politik tanpa transparansi kepada publik.

Ia mengkritik pidato-pidato normatif tentang keadilan dan kemakmuran yang dibayangi kecemasan terhadap kritik serta demonstrasi sehingga stabilitas hanya tampak di permukaan.

Akumulasi masalah selama satu dekade menurut Rocky Gerung kini menjadi warisan berat bagi pemerintahan baru termasuk gejolak pasar kerusakan lingkungan serta ketidakadilan yang menumpuk.

Ia juga menyentil institusi kampus yang seharusnya menjaga nilai dan ingatan justru terseret menjadi perpanjangan kekuasaan.

Di akhir pemaparannya Rocky Gerung menegaskan bahwa republik bukan sekadar nama atau proyek melainkan soal keberpihakan nilai publik serta kemampuan negara merasakan hal-hal kecil yang menentukan martabat warganya.

Jika tidak demikian republik hanya akan menjadi bangunan kosong tanpa etos dan tanpa nurani.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok.


Baca Juga

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

ads bottom

Copyright © 2023 - Repelita.com | All Right Reserved