
Repelita Purworejo - Presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengenang keteladanan mertuanya, Jenderal TNI Purnawirawan Sarwo Edhie Wibowo, sebagai prajurit setia yang tak pernah goyah dalam bela negara meski dihadapkan pada berbagai godaan politik.
Ziarah keluarga ke makam pahlawan nasional itu dilakukan di TMP Kalibata pada Selasa, 9 Desember 2025, di mana SBY berbagi cerita tentang nasihat moral yang menjadi warisan abadi.
Sang jenderal selalu menjunjung tinggi komitmen terhadap keutuhan bangsa, bahkan saat didekati oleh kelompok-kelompok oposisi yang ingin menggoyahkan stabilitas pemerintahan.
SBY menceritakan bagaimana Sarwo Edhie pernah menerima tawaran bergabung dalam gerakan anti-pemerintah dari pihak yang merasa tidak puas dengan kebijakan saat itu.
Namun, responsnya tetap tegas dan singkat, menolak segala bentuk konfrontasi yang berpotensi merusak persatuan.
Jawaban beliau singkat dan tegas, apapun yang terjadi ini negara kita. Kalau ingin memberi masukan kepada pemerintah, sampaikan dengan cara yang baik, bukan dengan melawan.
Menurut SBY, keyakinan itu tumbuh dari pemahaman mendalam bahwa Indonesia lahir dari darah dan air mata para pejuang serta tentara sejak masa revolusi kemerdekaan.
Beliau berpesan, sekalipun suatu saat pemimpin dianggap tidak lurus, jangan pernah membenci negaramu. Dengan segala kekurangannya, ini adalah negara kita.
Pesan moral semacam itu menjadi kompas hidup yang terus dipegang teguh oleh SBY dalam menjalani karir politiknya.
Beliau mengajarkan bahwa kritik itu boleh, nasihat itu perlu, tetapi jangan pernah mengkhianati negara yang kita dirikan dan kita perjuangkan bersama.
Selain meninggalkan warisan nilai-nilai patriotisme, rekam jejak Sarwo Edhie juga penuh dengan kontribusi heroik dalam menjaga integritas wilayah NKRI.
SBY khusus menyebut peran krusial mertuanya dalam menyelenggarakan jajak pendapat di Papua di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Waktu jajak pendapat di Papua yang diselenggarakan PBB, almarhum menjabat sebagai Pangdam Cendrawasih. Tugas beliau menjaga stabilitas dan kelancaran jalannya proses penentuan sikap rakyat Papua.
Di luar itu, karir militernya sejak 1945 dipenuhi operasi-operasi perang besar yang menentukan nasib bangsa.
Ia terlibat langsung dalam pertempuran sengit di Palagan Ambarawa, momen krusial yang mengubah pandangan internasional terhadap perjuangan Indonesia.
Pada masa itu dunia sempat meragukan keberadaan Indonesia sebagai negara. Tapi melalui perlawanan rakyat dan tentara, termasuk di Palagan Ambarawa, dunia mulai membuka mata dan akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949.
Sebagian besar dinasnya dihabiskan di kesatuan elit RPKAD, yang kini dikenal sebagai Kopassus, dengan partisipasi aktif dalam Operasi Trikora dan Dwikora untuk memperkuat pertahanan nasional.
Ziarah SBY kali ini juga menyentuh rasa syukur atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sarwo Edhie, yang dianggap sebagai penghargaan tertinggi atas pengabdiannya sepanjang hayat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

