Oleh: Rina Syafri
Bayang Utara, Pesisir Selatan, Sumatra Barat—Jembatan Akar, ikon wisata dan warisan budaya Nagari Bayang, kini rusak parah setelah dihantam banjir bandang. Namun bencana ini bukan sekadar akibat curah hujan ekstrem. Akar persoalannya adalah pembalakan liar yang terus berlangsung tanpa pengawasan berarti.
Hutan-hutan yang seharusnya menjadi benteng alami telah dilucuti oleh tangan-tangan rakus. Tanpa tutupan vegetasi, air hujan tak lagi tertahan, mengalir deras membawa lumpur dan kehancuran. Jembatan Akar, yang terbentuk dari puluhan tahun pertumbuhan akar pohon, kini tercabik. Bukan hanya struktur fisik yang hilang, tetapi juga simbol kesabaran, kearifan lokal, dan harmoni antara manusia dan alam.
Dampak Nyata yang Terabaikan
- Kerusakan ekologis: Penggundulan hutan memperparah banjir dan tanah longsor, mengancam keselamatan warga.
- Kehilangan identitas budaya: Jembatan Akar bukan sekadar objek wisata, melainkan lambang kebanggaan dan sejarah Nagari Bayang.
- Kerugian ekonomi lokal: Wisatawan berkurang drastis, UMKM dan pemandu wisata kehilangan penghasilan.
- Kegagalan pengawasan: Pembalakan liar bukan rahasia. Namun lemahnya penegakan hukum membuat pelaku terus leluasa beroperasi.
Seruan untuk Tindakan Nyata
Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum harus berhenti menutup mata. Penindakan terhadap pembalakan liar harus dilakukan tanpa kompromi. Rehabilitasi hutan dan perlindungan terhadap situs budaya seperti Jembatan Akar harus menjadi prioritas.
Bayang telah kehilangan satu lambang kebanggaannya. Jangan biarkan yang lain menyusul.

